Tampilkan postingan dengan label Laporan Biokimia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Laporan Biokimia. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Juni 2011

KARBOHIDRAT

LAPORAN PRAKTIKUM BOIKIMIA
PERCOBAAN 3
KARBOHIDRAT



OLEH:
NAMA : R. ALIP RAHARJO
STAMBUK : A1C4 08 027
PRODI : PEND. KIMIA
KELOMPOK : VI (ENAM)



LABORATORIUM PENGEMBANGAN UNIT KIMIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2011

Bab I. Pendahuluan
a. Latar Belakang
Karbohidrat ('hidrat dari karbon', hidrat arang) atau sakarida (dari bahasa Yunani σάκχαρον, sákcharon, berarti "gula") adalah segolongan besar senyawa organik yang paling melimpah di bumi. Karbohidrat memiliki berbagai fungsi dalam tubuh makhluk hidup, terutama sebagai bahan bakar (misalnya glukosa), cadangan makanan (misalnya pati pada tumbuhan dan glikogen pada hewan), dan materi pembangun (misalnya selulosa pada tumbuhan, kitin pada hewan dan jamur)(Campbell, 2002). Pada proses fotosintesis, tetumbuhan hijau mengubah karbon dioksida menjadi karbohidrat.
Secara biokimia, karbohidrat adalah polihidroksil-aldehida atau polihidroksil-keton, atau senyawa yang menghasilkan senyawa-senyawa ini bila dihidrolisis (Lehninger, 1997). Karbohidrat mengandung gugus fungsi karbonil (sebagai aldehida atau keton) dan banyak gugus hidroksil. Pada awalnya, istilah karbohidrat digunakan untuk golongan senyawa yang mempunyai rumus (CH2O)n, yaitu senyawa-senyawa yang n atom karbonnya tampak terhidrasi oleh n molekul air. (Kuchel, 2006). Namun demikian, terdapat pula karbohidrat yang tidak memiliki rumus demikian dan ada pula yang mengandung nitrogen, fosforus, atau sulfur (Lehninger, 1997).
Bentuk molekul karbohidrat paling sederhana terdiri dari satu molekul gula sederhana yang disebut monosakarida, misalnya glukosa, galaktosa, dan fruktosa. Banyak karbohidrat merupakan polimer yang tersusun dari molekul gula yang terangkai menjadi rantai yang panjang serta dapat pula bercabang-cabang, disebut polisakarida, misalnya pati, kitin, dan selulosa. Selain monosakarida dan polisakarida, terdapat pula disakarida (rangkaian dua monosakarida) dan oligosakarida (rangkaian beberapa monosakarida).
Di dalam ilmu gizi, secara sederhana karbohidrat dapat dibedakan menjadi 2 jenis yaitu karbohidrat sederhana & karbohidrat kompleks dan berdasarkan responnya terhadap glukosa darah di dalam tubuh, karbohidrat juga dapat dibedakan berdasarkan nilai tetapan indeks glicemik-nya (glycemic index). Contoh dari karbohidrat sederhana adalah monosakarida seperti glukosa, fruktosa & galaktosa atau juga disakarida seperti sukrosa & laktosa. Jenisjenis karbohidrat sederhana ini dapat ditemui terkandung di dalam produk pangan seperti madu, buah-buahan dan susu.Sedangkan contoh dari karbohidrat kompleks adalah pati (starch), glikogen (simpanan energi di dalam tubuh), selulosa, serat (fiber) atau dalam konsumsi sehari-hari karbohidrat kompleks dapat ditemui terkandung di dalam produk pangan seperti, nasi, kentang, jagung, singkong, ubi, pasta, roti dsb(Donald, 1993).
Banyaknya manfaat dari karbohidrat yang di ketahui serta sumber-sumbernya misalnya dari nasi, kentang, jagung, singkong, ubi, pasta, dan roti. Banyaknya kandungan karbohidrat dari tiap-tiap sumber karbohidrat berbeda-beda, misalnya kadar karbohidrat dari nasi dan kentang sudah tentu kadarnya akan berbeda. Dengan adanya perbedaan kadar dari tiap-tiap sumber karbohidrat tersebut, maka penelitian ini yang berjudul “Uji Karbohidrat” bertujuan untuk menguji kadar karbohidrat dari berbagai sumber karbohidrat.
b. Rumusan masalah
Apakah ada kandungan karbohidrat polisakarida pada sampel ( tepung beras, agar-agar, terigu, dan nutrigel)? Bagaimana mengidentifikasi hasil hidrolisis amilum/pati baik itu menggunakan asam maupun enzim amylase?
c. Tujuan
Membuktikan adanya karbohidrat polisakarida pada sampel ( tepung beras, agar-agar, terigu, dan nutrigel). Mengidentifikasi hasil hidrolisis amilum/pati baik itu menggunakan asam maupun enzim amylase.
d. Manfaat
Manfaat setelah mengikuti praktikum ini adalah Membuktikan adanya karbohidrat polisakarida pada sampel ( tepung beras, agar-agar, terigu, dan nutrigel), praktikan dapat mengetahui perbedaan amilosa dan amilopektin. Mengidentifikasi hasil hidrolisis amilum/pati baik itu menggunakan asam maupun enzim amylase.
Bab II. Kajian Pustaka
Karbohidrat merupakan senyawa yang terbentuk dari molekul karbon, hidrogen dan oksigen. Sebagai salah satu jenis zat gizi, fungsi utama karbohidrat adalah penghasil energi di dalam tubuh. Tiap 1 gram karbohidrat yang dikonsumsi akan menghasilkan energi sebesar 4 kkal dan energi hasil proses oksidasi (pembakaran) karbohidrat ini kemudian akan digunakan oleh tubuh untuk menjalankan berbagai fungsi-fungsinya sepert I bernafas, kontraksi jantung dan otot serta juga untuk menjalankan berbagai aktivitas fisik seperti berolahraga atau bekerja.
Karbohidrat sebenarnya merupakan nama umum senyawa-senyawa kimiawi berupa bentuk hidrat dari karbon dan secara empiris mempunyai rumus umum Cn(H2O)m Berdasarkan sifat-sifatnya terhadap zat-zat penghidrolisa karbohidrat dibagi dalam 4 kelompok utama : Monosakarida merupakan karbohidrat yang tidak dapat dihidrolisa menjadi senyawa yang lebih sederhana. Oligosakarida merupakan senyawa yang terbentuk dari gabungan 2 molekul atau lebih monosakarida. Glikosida merupakan senyawa yang terdiri dari gabungan molekul gula dan molekul non gula Polisakarida Merupakan semua jenis karbohidrat baik mono, di maupun polisakarida akan berwarna merah. Apabila larutannya (dalam air) dicampur dengan beberapa tetes larutan alpha naphtol dan kemudian dialirkan pada asam sulfat pekat dengan hati-hati sehingga tidak tercampur. Warna merah akan tampak pada bidang batas antara campuran karbohidrat dengan α naphtol dan asam sulfat pekat. Sifat ini dipakai sebagai dasar uji kualitatif adanya karbohidrat dan dikenal sebagai uji Molisch(Anonim, 2007)
Karbohidrat golongan polisakarida akan memberikan reaksi dengan larutan iodine dan memberikan warna spesifik bergantung pada jenis karbohidratnya. Amilose dengan iodine akan berwarna biru, amilopektin dengan iodine akan berwarna merah violet, glikogen maupun dextrin dengan iodine akan berwarna coklat (Anonim, 2007)
Pati merupakan homopolimer glukosa dengan ikatan α-glukosidik. Pati tersusun atas jenis molekul polisakarida, yang satu linier (amilosa) dan yang lain bercabang (amilopektin). Pada pati alami, kedua molekul ini disatukan berdekatan dalam granula pati mikroskopik. Granula biasanya mengandung amilosa sekitar 15-30% dari keseluruhan granula tersebut (Fennema, 1976).
Menurut Sudarmanto (1999), pati merupakan cadangan bahan baku pada tanaman yang disimpan pada berbagai jaringan penimbun. Pati tersimpan dalam bentuk butiran (granula) yang kenampakan dan ukurannya beragam. Pati merupakan glukan yang terdiri dari 2 macam fraksi. Granula pati tersusun secara berlapis-lapis mengelilingi nukleus. Pembentukan granula pati dikontrol untuk endogeneus. Granula pati bersifat higroskopis, mudah menyerap air, lembab dan diikuti dengan peningkatan diameter granula. Pati tidak larut dalam air dingin karena antar molekulnya terikat 1 dengan lainnya lewat ikatan H. Dalam proses pembentukan jendalan pati, pati yang kandungan amilosanya tinggi akan lebih cepat dan banyak menyerap air, hasil jendalannya bervolume lebih mengembang dan kurang lekat. Sedangkan pati yang kadar amilosanya rendah lebih sedikit menyerap air dan jendalannya kurang mengembang tetapi lebih lekat.
Amilosa merupakan suatu polimer lurus yang tersusun hampir seluruhnya dari D-glukopiranosa yang disambung dengan ikatan α-1,4. Bila dalam bentuk pilinan, maka amilosa dapat membentuk kompleks chlatrate dengan asam bebas, komponen asam lemak gliserida, beberapa alkohol, dan iodin karena sebagian dalam dari pilinan tersebut bersifat hidrofobik. Sedangkan amilopektin tersusun atas segmen-segmen glukosa yang berikatan α-1,4 dan bagian-bagian tersebut dihubungkan oleh titik-titik percabangan β-1,6 (Thomas dan Atwell, 1999).
Menurut Winarno (1992), amilopektin dan amilosa sebagai fraksi dalam pati dapat dipisahkan berdasarkan kelarutannya dalam air panas. Amilosa merupakan fraksi terlarut dalam air panas, sedangkan amilopektin merupakan fraksi tidak terlarut. Amilase bekerja pada pati, glikogen dan turunan polisakarida dengan menghidrolisa ikatan α – 1,4 – dan / α – 1,6 – glikosidik. Enzim amilase dapat diisolasi dari jaringan tanaman, hewan dan sel mikrobia. Enzim amilase banyak terdapat pada kecambah biji gandum, sorgum, kedele, kacang hijau, beras dan biji-bijian yang lain. Enzim amilase dalam kecambah termasuk enzim endoselluler sehingga untuk mengekstrasi terlebih dahulu harus menghancurkan biji kecambah. Amilase dikelompokkan menjadi 3 golongan enzim yaitu: α-amilase yang memecah pati secara acak dari tengah dan bagian dalam molekul, karena itu disebut endoamilase. β-amilase, yang menghidrolisa unit-unit glukosa dari ujung molekul pati, karenanya disebut eksoamilase. Glukoamilase, yang dapat memisahkan glukosa dari terminal gula non-pereduksi substrat pati (Anonim2¬¬¬, 2006)
Bab III. Metode Penelitian
a. Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada bulan april 2011 dan bertempat di Laboratorium Pengembangan Unit Kimia Jurusan P. MIPA Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan Universitas Haluoleo Kendari.
b. Alat dan bahan
Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini adalah
1. Alat
- Tabung reaksi 18 buah - Pipet volume 25 mL 1 buah
- Batang pengaduk 3 buah - Pipet tetes 6 buah
- Gelas ukur 10 mL 1 buah - Gelas ukur 5 mL 1 buah
- Botol semprot - Pipet skala 5 mL 1 buah
- Labu takar 50 mL 1 buah - Karet pengisap (filler)
- Gelas kimia 50 mL 6 buah - Gelas kimia 800 mL 2 buah
2. Bahan
- Amilum - Enzim amilase
- Agar-agar - Pereaksi Neslon
- Larutan Iodin - Aquades
- Terigu - HCl 6 N
- Maizena - NaOH 6 N
- Gum Arab - Larutan pati 1%
c. Prosedur Kerja
1. Uji Karbohidrat
2. Hidrolisis dengan Pati
a. Hidrolisis menggunakan Asam
b. Hidrolisis menggunakan enzim amilase
Bab IV Hasil dan Pembahasan
a. Hasil
Data Pengamatan
- Uji Karbohidrat
- Hidrolisis pati dengan menggunakan asam
b. Pembahasan
Karbohidrat atau Hidrat Arang adalah suatu zat gizi yang fungsi utamanya sebagai penghasil enersi, dimana setiap gramnya menghasilkan 4 kalori. Walaupun lemak menghasilkan enersi lebih besar, namun karbohidrat lebih banyak di konsumsi sehari-hari sebagai bahan makanan pokok, terutama pada negara sedang berkembang. Di negara sedang berkembang karbohidrat dikonsumsi sekitar 70-80% dari total kalori, bahkan pada daerah-daerah miskin bisa mencapai 90%. Sedangkan pada negara maju karbohidrat dikonsumsi hanya sekitar 40-60%. Hal ini disebabkan sumber bahan makanan yang mengandung karbohidrat lebih murah harganya dibandingkan sumber bahan makanan kaya lemak maupun protein. Karbohidrat banyak ditemukan pada serealia (beras, gandum, jagung, kentang dan sebagainya), serta pada biji-bijian yang tersebar luas di alam (Hutagalung, 2004)
Starch (pati) atau amilum adalah karbohidrat kompleks yang tidak larut dalam air, berwujud bubuk putih, tawar dan tidak berbau. Pati merupakan bahan utama yang dihasilkan oleh tumbuhan untuk menyimpan kelebihan glukosa (sebagai produk fotosintesis) dalam jangka panjang. Sumber pati utama di Indonesia adalah beras disamping itu dijumpai beberapa sumber pati lainnya yaitu : jagung, kentang, tapioka, sagu, gandum, dan lain-lain. Hewan dan manusia juga menjadikan pati sebagai sumber energi yang penting (Wikipedia Indonesia).
Menurut Wikipedia Indonesia, pati tersusun dari dua macam karbohidrat, amilosa dan amilopektin, dalam komposisi yang berbeda-beda. Amilosa memberikan sifat keras sedangkan amilopektin menyebabkan sifat lengket. Amilosa memberikan warna ungu pekat pada tes iodin sedangkan amilopektin tidak bereaksi. Pati digunakan sebagai bahan yang digunakan untuk memekatkan makanan cair seperti sup dan sebagainya. Dalam industri, pati dipakai sebagai komponen perekat, campuran kertas dan tekstil, dan pada industri kosmetika. Dalam bentuk aslinya secara alami pati merupakan butiran-butiran kecil yang sering disebut granula. Bentuk dan ukuran granula merupakan karakteristik setiap jenis pati, karena itu digunakan untuk identifikasi (Hill dan Kelley, 1942). Selain ukuran granula karakteristik lain adalah bentuk, keseragaman granula, lokasi hilum, serta permukaan granulanya (Hodge dan Osman, 1976).
Pada percobaan ini dilakukan uji terhadap kandungan karbohidrat dari berbagai bahan misalnya untuk uji karbohidrat digunakan amilum, agar-agar, tepung beras, nutrigell, terigu, dan tepung umbi sedangkan untuk hidrolisis pati hanya digunakan larutan pati dengan 2 hidrolisis yang berbeda yakni hidrolisis menggunakan asam dan hidrolisis menggunkana enzim amylase. Pada perlakuan yang pertama yakni uji karbohidrat . Pada uji karbohidrat dari tiap bahan yang digunakan dilakukan 3 kali pengujian yang berbeda yakni menguji dengan 2 tetes air + 5 iodine, 2 tetes HCl 6N + 5 tetes iodine, dan 2 tetes NaOH 6N + 5 tetes iodine . pada uji agar-agar yang pertama, setelah ditambahkan larutan uji maka terbentuk 2 lapisan yakni larutan bening dan endapan putih, kemudian setelah ditambahkan dengan iodine maka larutannya akan keruh. Setelah dipanaskan dan didinginkan akan terbentuk jelly. Pada uji agar-agar yang kedua , setelah ditambahkan larutan uji maka terbentuk 2 lapisan yakni larutan bening dan endapan putih, kemudian setelah ditambahkan dengan iodine maka larutannya berwarna ungu. Setelah dipanaskan endapan mencair menjadi jelly dan setelah didinginkan larutan berubah warna menjadi kuning. Pada uji agar-agar yang ketiga, setelah ditambahkan larutan uji maka larutan bening kekuningan dan terdapat endapan, kemudian setelah ditambahkan dengan iodine maka endapannya berubah warna menjadi warna kuning. Setelah dipanaskan , endapan kekuningan tersebut berubah menjadi hitam begitu juga setalah didinginkan endapan akan tetap berwarna kuning.
Uji karbohidrat selanjutnya yakni uji pada larutan nutrigell. Pada uji nutrigell yang pertama setelah ditambahkan larutan uji maka larutan berwarna bening sama halnya jika di tambahkan dengan iodine. Setelah dipanaskan larutan berwarna ungu kemudian setelah didinginkan larutan berubah warna menjadi warna bening.uji nutrigell yang kedua setelah ditambahkan larutan uji maka larutan berwarna bening , kemudian apabila ditambahkan dengan iodine larutan berubah warna menjadi ungu muda.kemudian apabila dipanaskan dan didinginkan larutan akan berubah menjadi bening. Untuk uji nutrigell yang ketiga, setelah ditambahkan larutan uji dan ditambahkan iodine warna akan tetap bening kemudian setelah dipanaskan dan didinginkan larutan berubah menjadi kuning keemasan. Uji karbohidrat yang selanjutnya yakni uji terigu, pada uji terigu yang pertama stelah ditambahkan larutan uji larutan akan berwarna putih keruh dan setelah ditambahkan iodine akan terbentuk endapan putih. Kemudian larutan dipanaskan, larutan berwarna putih dan terdapat endapan . Untuk uji terigu yang kedua, setelah ditambahkan larutan uji akan terbentuk endapan putih dan apabila ditambahkan dengan iodine endapan berubah jadi keruh. Setelah dipanaskan larutan akan berubah lagi menjadi kuning. Untuk larutan terigu yang ketiga , setalah ditambahkan dengan larutan uji maka akan terbentuk larutan putih kekuningan dan terbentuk endapan. Setelah dipanaskan larutan putih dan terdapat endapan gel. Untuk uji karbohidrat yang terakhir yakni larutan tepung beras , setalah ditambahkan larutan uji maka larutan akan keruh. Setalah ditambahkan iodine larutan berubah menjadi warna ungu . Kemudian jika dipanaskan larutan keruh dan terbentuk endapan . Setelah didinginkan larutan akan berbentuk coklat keruh. Untuk uji tepung beras yang kedua setelah ditambahkan larutan uji larutan berubah menjadi keruhn kemudian jika ditambahkan dengan iodine akan berubah menjadi coklat tua. Setelah dilakukan pemanasan larutan keruh dan terbentuk endapan. Kemudian apabila didinginkan larutan akan kuning keruh. Pada uji tepung beras yang ketiga setelah ditambahkan larutan uji maka larutan akan keruh dan setelah ditambahkan dengan iodine akan berubah warna bening kekuningan. Kemudian jika dipanaskan larutan berwarna kuning dan terbentuk jelly. Pada perlakuan ini uji yang dilakukan menyimpang dari yang seharusnya terjadi. Hal ini mungkin diakibatkan karena konsentrasi larutan uji terlalu besar sedangkan senyawa penguji memiliki konsentrasi yang lebih kecil.
Untuk perlakuan yang selanjutnya merupakan hidrolisis pati dengan menggunakan asam dan hidrolisis menggunakan enzim amylase. Hidrolisis pati menggunakan asam dilakukan menggunakan tepung beras . tepung beras setelah ditambahkan dengan HCl larutan berubah menjadi keruh apabila dipanaskan, sama halnya setelah didinginkan. Untuk campuran setelah ditambahkan dengan iod larutan akan berubah warna menjadi kehitaman stelah dipanaskan dan apabila didinginkan berubah menjadi orange. Stelah hal tersebut dilakukan campuran yang pertama ditambahkan dengan larutan uji nelson AB. Larutan akian berubah menjadi biru stelah dipanaskan maupun didinginkan. Untuk hidrolisis dengan enzim amylase, dilakukan perlakuan sebanyak 5 kali dengan waktu berturut-turut 5 menit selama 15 menit untuk melihat perubahan dengan semakin bertambahnya waktu yang digunakan. Penambahan enzim amylase digunakan untuk mempercepat jalannya hidrolisis dari banyaknya waktu yang diperlukan sebelum pemanasan pada penambahan iod larutan berwarna kuning kehijauan sedangkan jika ditambahkan dengan nelson larutan berwarna biru bening. Hal tersebut selama 5 sampai 25 menit tidak mengalami perubahan baik sesudah pemanasan maupun setelh didinginkan berwarna larutan biru bening.
Bab V. Penutup
a.         Kesimpulan
Pengujian pada percobaan ini dilakukan dengan uji karbohidrat serta hidrolisis contoh karbohidrat yakni pati dimana dilakukan  hidrolisis menggunakan asam serta hidrolisis menggunkan enzim amylase. Uji karbohidrat yang dilakukan dengan menggunakan bahan – bahan yang menggandung karbohidrat. Pada perlakuan ini uji yang dilakukan menyimpang dari yang seharusnya terjadi. Hal ini mungkin diakibatkan karena konsentrasi larutan uji terlalu besar sedangkan senyawa penguji memiliki konsentrasi yang lebih kecil.
b.        Saran
1.      Sebaiknya pengujian ini dilakukan secara lebih teliti dengan melihat prosedur yang sesuai.
2.      Sebaiknya penelitian ini dilakukan dengan reagen uji yang berbeda dari uji nelson dan iodine
Daftar Pustaka
Anonim. 2007. Petunjuk Praktikum Biokimia .Laboratorium Dasar Universitas Trunojoyo
……….2, 2006, Ekstraksi dan Pengujian Aktivitas Enzim Amilase (Hidrolisis Pati secara Enzimatis). Buku Petunjuk Praktikum Biokimia dan Enzimologi Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya Malang.
Campbell, N.A. (2002) (Didigitalisasi oleh Google Penelusuran Buku). Biologi (edisi ke-Edisi ke-5, Jilid 1, diterjemahkan oleh R. Lestari dkk.). Jakarta: Erlangga. hlm.  65–70. Diakses pada 08 mei 2011
Hill dan Kelley, 1942, Organic Chemistry, The Blakistan Co., Philadelphia, Toronto.
Hodge, J.E. dan E.M. Osman, 1976, Carbohydrates, Di dalam Food Chemistry. D.R.
Fennema, ed. Macel Dekker, Inc. New York dan Basel.
Hutagalung H. 2004. Karbohidrat .Bagian Ilmu Gizi . Fakultas Kedokteran  Universitas Sumatera Utara
Kuchel, P. (2006) (Didigitalisasi oleh Google Penelusuran Buku). Schaum's Easy Outlines: Biokimia (edisi ke-diterjemahkan oleh E. Laelasari). Jakarta: Erlangga. hlm. hlm. 1.. Diakses pada 08 mei 2011
Lehninger, A.L. (1997). Dasar-dasar Biokimia (edisi ke-Jilid 1, diterjemahkan oleh M. Thenawidjaja). Jakarta: Erlangga. hlm. hlm. 313
Mac donald, I., “Carbohydrates : Requirement and Dietary Importance,” In Encyclopedia Of Food Science, Food Technology & Nutrition, Academic Press, 1993,pp.887-889.

Sabtu, 21 Mei 2011

PROTEIN DAN ASAM AMINO PADA UMBI LOKAL

LAPORAN PRAKTIKUM BOIKIMIA
PERCOBAAN II
PROTEIN DAN ASAM AMINO PADA UMBI LOKAL



OLEH:
NAMA : R. ALIP RAHARJO
STAMBUK : A1C4 08 027
PRODI : PEND. KIMIA
KELOMPOK : VI (ENAM)


LABORATORIUM PENGEMBANGAN UNIT KIMIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2011
Bab I. Pendahuluan

a. Latar Belakang

Asam amino adalah sembarang senyawa organik yang memiliki gugus fungsional karboksil (-COOH) dan amina (biasanya -NH2). Dalam biokimia seringkali pengertiannya dipersempit: keduanya terikat pada satu atom karbon (C) yang sama (disebut atom C "alfa" atau α). Gugus karboksil memberikan sifat asam dan gugus amina memberikan sifat basa. Dalam bentuk larutan, asam amino bersifat amfoterik: cenderung menjadi asam pada larutan basa dan menjadi basa pada larutan asam. Perilaku ini terjadi karena asam amino mampu menjadi zwitter-ion. Asam amino termasuk golongan senyawa yang paling banyak dipelajari karena salah satu fungsinya sangat penting dalam organisme, yaitu sebagai penyusun protein(Anonim, 2011)

Protein (asal kata protos dari bahasa Yunani yang berarti "yang paling utama") adalah senyawa organik kompleks berbobot molekul tinggi yang merupakan polimer dari monomer-monomer asam amino yang dihubungkan satu sama lain dengan ikatan peptida. Molekul protein mengandung karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen dan kadang kala sulfur serta fosfor. Protein berperan penting dalam struktur dan fungsi semua sel makhluk hidup dan virus.Kebanyakan protein merupakan enzim atau subunit enzim. Jenis protein lain berperan dalam fungsi struktural atau mekanis, seperti misalnya protein yang membentuk batang dan sendi sitoskeleton. Protein terlibat dalam sistem kekebalan (imun) sebagai antibodi, sistem kendali dalam bentuk hormon, sebagai komponen penyimpanan (dalam biji) dan juga dalam transportasi hara. Sebagai salah satu sumber gizi, protein berperan sebagai sumber asam amino bagi organisme yang tidak mampu membentuk asam amino tersebut (heterotrof).Protein merupakan salah satu dari biomolekul raksasa, selain polisakarida, lipid, dan polinukleotida, yang merupakan penyusun utama makhluk hidup. Selain itu, protein merupakan salah satu molekul yang paling banyak diteliti dalam biokimia. Protein ditemukan oleh Jöns Jakob Berzelius pada tahun 1838. Biosintesis protein alami sama dengan ekspresi genetik. Kode genetik yang dibawa DNA ditranskripsi menjadi RNA, yang berperan sebagai cetakan bagi translasi yang dilakukan ribosom (Ussery, 1998) Sampai tahap ini, protein masih "mentah", hanya tersusun dari asam amino proteinogenik. Melalui mekanisme pascatranslasi, terbentuklah protein yang memiliki fungsi penuh secara biologi. (Abrams, 2010)

Banyaknya fungsi dari protein yang diketahui dan manfaatnya bagi kehidupan misalnya sebagai salah satu sumber gizi maka dalam pemanfaatannya protein digunakan sebagai sumber gizi yang utama. Berbagai jenis macam protein dapat ditemukan misalnya pada hewan dan tumbuhan.. Banyaknya kadar protein hewani dari tiap-tiap hewan berbeda-beda, begitu pula kadar protein nabati pada tumbuhan berbeda-beda. Adanya perbedaan kadar kandungan protein pada tumbuhan ini maka berdasarkan uraian diatas, penelitian yang berjudul “Uji Kadar Asam Amino dan Protein”,peneliti akan melakukan uji kadar protein pada tumbuhan umbi-umbian.

b. Rumusan masalah

Adapun yang menjadi masalah pokok dalam penelitian ini adalah “apakah terdapat kandungan protein dari albumin telur dan umbi lokal dengan melakukan uji protein?”

c. Tujuan

Tujuan yang akan dicapai pada praktikum ini adalah mengetahui sifat kelarutan dan denaturasi yang berkaitan dengan albumin protein dan kandungan protein dari umbi lokal

Bab II. Kajian Pustaka

Protein tersusun dari berbagai asam amino yang masing-masing dihubungkan dengan ikatan peptida. Meskipun demikian, pada awal pembentukannya protein hanya tersusun dari 20 asam amino yang dikenal sebagai asam amino dasar atau asam amino baku atau asam amino penyusun protein (proteinogenik). Asam-asam amino inilah yang disandi oleh DNA/RNA sebagai kode genetik.

Umbi-umbian merupakan komoditas pertanian yang tersebar luas di Indonesia. Umbi-umbian merupakan salah satu sumber utama karbohidrat. Umbi adalah akar tanaman yang telah termodifikasi menjadi organ penyimpan cadangan makanan. Contoh umbi-umbian adalah ketela rambat, singkong dan kentang (Desrosier, 1988).

Umbi Gadung adalah tumbuhan merambat yang dapat mencapai panjang 10m. Daun berbentuk mata panah. Tumbuhan memiliki bunga tersusun majemuk, tumbuh dari ketiak daun, berumah satu. Bunga jantan tersusun rapat 1-3cm; bunga betina tersusun jarang, lebih panjang, 15-20cm; mahkota berwarna ungu dengan panjang 2mm. Klasifikasinya dapat dilihat di bawah ini:

Kerajaan: Plantae 
Filum: Magnoliophyta 
Kelas: Liliopsida
Ordo: Dioscoreales 
Famili: Dioscoreaceae 
Genus: Dioscorea 
Spesies: D. Alata
Nama binomial: Dioscorea alata

Ia dapat diperbanyak secara vegetatif menggunakan umbi akar (akar yang membesar) atau umbi udara (umbi yang keluar dari ruas batang). Umbi akarnya dapat berukuran sangat besar, dengan panjang lebih dari satu meter (Anonim, 2010).

Kedudukan tanaman umbi talas (Calocasia esculentum Schott ) dalam taksonomi adalah sebagai berikut:

Kerajaan : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Kelas : Monocotyledoneae
Ordo : Aracales
Familia : Araceae
Genus : Calocasia
Spesies : Calocasia esculentum L (Purnomo. 2000).

Reagen biuret berfungsi untuk menguji kandungan protein dalam suatu zat (makanan) apabila setelah ditetesi biuret, makanan/ sari makanan yang mengandung protein akan berubah menjadi berwarna ungu. Reagen Fehling a dan b berfungsi untuk menguji kandungan glukosa dalam suatu zat (makanan) apabila setelah ditetesi fehling, makanan/ sari makanan yang mengandung glukosa akan berubah menjadi berwarna merah bata. Reagen benedict berfungsi mirip dengan fehling a dan b, yaitu untuk menguji kandungan glukosa dalam suatu zat (makanan) apabila setelah diberi benedict, makanan/ sari makanan yang mengandung glukosa akan berubah menjadi berwarna kuning, hijau, atau merah. (Arifiandi, 2009)

Bab III. Metode Penelitian

a. Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada bulan april 2011 dan bertempat di Laboratorium Pengembangan Unit Kimia Jurusan P. MIPA Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan Universitas Haluoleo Kendari.

b. Alat dan bahan

Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini adalah

- Penangas air
- Filler 1 buah
- Botol semprot 1 buah
- Batang pengaduk 3 buah
- Corong 1 buah
- Sentrifuga
- 1 Rak Tabung reaksitabung reaksi 1 buah
- Pipet ukur 5 mL dan 10 m 1 buah
- Gelas kimia 300 mL 2 buah
- Gelas ukur 50 mL 2 buah

Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah

- larutan protein albumin
- Larutan (NH4)2SO4
- Reagen untuk uji biuret
- Aquades
- Asam asetat 1 M
- Umbi lokal
 - HCl 0,1 M
- NaOH 0,1 M
- Buffer Asetat pH = 4
- Etil alcohol 96%
- Kertas saring







b. Pembahasan

Protein terdapat di semua jaringan sel hidup, baik pada tanaman maupun hewan. Setelah air, protein merupakan komponen yang terbesar darim tubuh manusia. Seperenam berat manusia terdiri atas protein. Sepertiga dari jumlah tersebut terdapat pada otot, seperlima bagian terdapat pada tulang dan tulang rawan, seper sepuluh terdapat pada kulit dan sisanya terdapat pada organ lain serta cairan tubuh. Pada umumnya, protein diperlukan tubuh untuk:

a. Pertumbuhan dan pengembangan tubuh.
b. Perbaikan dan pergantian sel-sel jaringan tubuh yang rusak.
c. Produksi enzim pencernaan dan enzim metabolisme.
d. Bagian yang terpenting dari hormon-hormon tertentu seperti tiroksin dan insulin (Winarno, 1993).

Pada Percobaan ini dilakukan uji dari sifat protein yakni uji kandungan protein dalam umbi-umbian lokal yakni ubi hutan dan ubi x. Pada uji ini, Umbi yang digunakan diperkirakan menggandung banyak protein. Untuk menguji kandungan dari umbi-umbi lokal tersebut dilakukan dengan uji biuret. Umbi-umbian tersebut sebanyak 2 gram masing-masing dihaluskan. Untuk memisahkan antara fasa padat dan larutannya digunakan sentrifuga. Sentrifuga tersebut berperan dalam memisahkan fasa larutan dengan fasa padat dimana fasa padat akan mengendap di bawah dan fasa cairan akan berada diatas. Dengan demikian fasa cair yang akan diambil yang berada diatas dan akan digunakan untuk uji biuret untuk mengetahui kandungan protein yang ada dalam umbi-umbian tersebut.

Uji biuret merupakan uji untuk mengidentifikasi adanya kandungan protein dalam suatu zat (makanan) apabila setelah ditetesi biuret, makanan/ sari makanan yang mengandung protein akan berubah menjadi berwarna ungu. Umbi-umbian tersebut setelah diuji dengan reagen biuret ternyata positif mengandung protein. Setelah diketahui bahwa umbi-umbian tersebut mengandung protein maka akan dilakukan analisis menggunakan spektrofotometer.

Analisis dengan spektrofotometer dilakukan menggunakan konsentrasi larutan standar protein sebesar 6000 ppm, dengan mengetahui hal tersebut maka akan didapatkan konsentrasi larutan yang mengandung protein. Konsentrasi yang di peroleh yakni bervariasi yakni mulai dari 0.1 M – 1 M. Konsentrasi yang mengandung protein tersebut kemudian akan dianalisis menggunakan spektorofotmeter. Setelah dianalisis maka akan didapatkan hubungan antara konsentrasi dan absorbansi . Nilai Absorbansi yang didapatkan akan semakin meningkat sesuai dengan bertambahnya konsentrasi larutan uji yag menggandung protein. Sehingga hal ini membuktikan bahwa semakin besar konsentrasi larutan uji protein maka akan semakin besar absorbansi yang diperoleh sehingga semakin banyak kandungan protein yang diketahui. Hubungan antara konsentrasi dan absorbansi tersebut dapat dilihat atau di gambarkan pada Grafik Hubungan Antara Konsentrasi dan Absorbansi. Grafik tersebut memperlihatkan peningkatan nilai absorbansi sesuai dengan peningkatan jumlah konsentrasi. Peningkatan absorbansi tersebut bertahap dari rendah ketinggi (semakin meningkat).

Penghitungan kandungan protein antara ubi Gandu dan Raeya didapatkan bahwa kandungan protein terbesar diperoleh dalam kandungan ubi Gandu dibandingkan Raeya, hal tersebut dapat dilihat dari perbandingan absorbansi antara ubi Gandu dan Raeya, dimana nilai rata-rata absorbansi ubi Gandu sebesar 0,2069 sedangkan absorbansi Raeya sebesar 0,1839. Didapatkan absorbansi rata-rata tersebut, maka akan di dapatkan nilai x yang terdapat dari grafik hubungan antara absorbansi dan konsentrasi yang menghasilkan regresi linear dengan persamaan y= 0,146x + 0,130. Nilai x yang didapatkan yakni sebesar X= 0,526712 mg/ml. Dengan didapatkan nilai-nilai tersebut, maka akan diketahui persentase kadar protein dalam ubi Gandu dan Raeya. Untuk menghitung kadar protein tersebut maka digunakan Berat sampel = konsentrasi sampel x volume sampel x factor pengenceran. Dimana factor pengenceran sebesar 12 ml. Dengan menggunkan perhitungan tersebut, maka didapatkan kadar persentase kandungan ubi Gandu lebih besar di bandingkan Raeya (sesuai dengan peningkatan konsentrasi dan absorbansi) yakni ubi Gandu sebesar 3.16% sedangkan Raeya sebesar 2.22% .

Sel mengandung ratusan hingga ribuan jenis protein. Fraksinasi terhadap protein dapat dilakukan untuk memperoleh preparat protein murni tertentu sebelum ditentukan komposisi dan deret asam amino penyusunnya (Lehninger, 1982). Protein dapat dimurnikan berdasarkan ukuran, daya larut, dan afinitas pengikatan (Stryer, 2000). Pemisahan dan pemurnian protein dapat dilakukan dengan cara:

a. Dialisis

Protein dapat dipisahkan dari senyawa dengan berat molekul rendah yang ada di dalam ekstrak sel atau jaringan dengan proses dialisis. Molekul besar seperti protein ditahan di dalam kantong terbuat dari senyawa berpori amat halus, seperti selopan. Jadi, jika kantong yang mengandung ekstrak sel atau jaringan dimasukkan ke dalam air, molekul kecil di dalam ekstrak jaringan, seperti garam, akan melalui pori-pori, tetapi protein dengan berat molekul tinggi akan tertahan di dalam kantong (Lehninger, 1982).

b. Elektroforesis

Protein dapat juga dipisahkan satu dari yang lain oleh elektroforesis berdasarkan tanda dan jumlah muatan listrik pada gugus R dan gugus termal asam amino dan terminal karboksil yang bermuatan. Seperti peptida sederhana, rantai polipeptida protein mempunyai titik isoelektrik yang khas, yang akan mencerminkan jumlah relatif gugus R asam dan basa (Lehninger, 1982). Kecepatan migrasi protein dalam medan listrik tergantung pada kekuatan medan listrik, muatan protein, dan koefisian pergesekan (Stryer, 2000).

Bab V. Penutup

a. Kesimpulan

Kesimpulan pada percobaan ini yakni uji kandungan protein ubi Gandu dan Raeya didapatkan dengan melihat hibungan antara konsentrasi danabsorbansi. Uji-uji tersebut dilakukan untuk mengetahui sifat-sifat dari protein dimana pada akhirnya akan terbentuk endapan. Serta pada akhirnya di uji dengan reagen biuret dan hasilnya positif terdapat protein. Kandungan protein terbanyak diperoleh ubi Gandu sebesar 3.16% sedangkan Raeya sebesar 2.22% sesuai dengan absorbansi yang diperoleh dimana semakin besar absorbansi maka akan semakin besar persentase kadar yang diperoleh.

b. Saran

Saran yang dapat saya sampaikan pada percobaan kali ini adalah:

1. Agar penelitian ini lebih dilanjutkan dengan variasi tumbuhan yang berbeda-beda
2. Pada penentuan uji kadar protein yang dilakukan sebaiknya dilakukan uji kadar dengan metode yang berbeda misalnya dengan metode KLT , Tes UV-Absorbsi, Reaksi Xanthoprotein, Reaksi Millon, Reaksi Ninhydrin, Reaksi Biuret, Reaksi Bradford, Tes Protein berdasar Lowry,dan Tes BCA-

Daftar Pustaka

Anonim, 2011. Asam Amino. http://www.wikipedia.com. Diakses 29 april
………………........Albumin Kapsul, Madu Albumin". http://www.biohexa.com/. Diakses pada 2 mei 2011.
Arifiandi M, 2009 . Fungsi Uji Biuret, Uji Fehling, Uji Benedict . http://www.yahoo.co.id. Diakses 2 mei 2011
Desrosier, N.W. 1987. Teknologi Pengawetan Pangan. Jakarta : UI Press.
Furie B, Furie BC (2005). "Thrombus formation in vivo". J. Clin. Invest. 115 (12): 3355–62. doi:10.1172/JCI26987. PMID 16322780. http://www.jci.org/cgi/content/full/115/12/3355. Templat:PMC
Jolane Abrams. 2010. DNA, RNA, and Protein: Life at its simplest. http://www.postmodern.com/~jka/rnaworld/nfrna/nf-rnadefed.html
Lehninger, L. A., 1982, Dasar-Dasar Biokimia, alih bahasa oleh Thenawidjaja, M, 144-146, Erlangga, Jakarta.
Purnomo, Eko Hari . 2000. Pembuatan Pati Termodifikasi Dan Berkonsentrat Protein
Sismindari, Sudjadi, Sulistyani, N., 2002, Aktivitas Pemotongan DNA Superkoil oleh Fraksi Protein Daun Morinda citrifolia, Majalah Farmasi Indonesia,
13 (4), 174-179.
Stripe, F., Bateli, M. G., Soria, M., Lappi, D. A., 1992, Ribosom-inactivating Proteins from Plants present Status and Furture Prospects, Bio Technology, Vol.10
Stryer, L., 2000, Biokimia, alih bahasa oleh Sadikin, hal 47-51, ECG, Jakarta
UsseryD.1998.Gene Expression & Regulation. http://www.cbs.dtu.dk/staff/dave/DNA_CenDog.html
Winarno, F.G. 1993. Pangan: Gizi, Teknologi dan Konsumen. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Walker, J. M., and Gingold, E. B., 1988, Molecular Biology and Biotechnology, 2nd, 303-304, The Royal Socienty of Chemistry, Burlington House, London.

Jumat, 20 Mei 2011

Protein dan Asam Amino

LAPORAN PRAKTIKUM BOIKIMIA
PERCOBAAN II
PROTEIN DAN ASAM AMINO
OLEH:





NAMA : R. ALIP RAHARJO
STAMBUK : A1C4 08 027
PRODI : PEND. KIMIA
KELOMPOK : VI (ENAM)
ASISTEN : La Boyo S.Pd
LABORATORIUM PENGEMBANGAN UNIT KIMIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2011
Bab I. Pendahuluan

a. Latar Belakang

Asam amino adalah sembarang senyawa organik yang memiliki gugus fungsional karboksil (-COOH) dan amina (biasanya -NH2). Dalam biokimia seringkali pengertiannya dipersempit: keduanya terikat pada satu atom karbon (C) yang sama (disebut atom C "alfa" atau α). Gugus karboksil memberikan sifat asam dan gugus amina memberikan sifat basa. Dalam bentuk larutan, asam amino bersifat amfoterik: cenderung menjadi asam pada larutan basa dan menjadi basa pada larutan asam. Perilaku ini terjadi karena asam amino mampu menjadi zwitter-ion. Asam amino termasuk golongan senyawa yang paling banyak dipelajari karena salah satu fungsinya sangat penting dalam organisme, yaitu sebagai penyusun protein(Anonim, 2011)

Protein (asal kata protos dari bahasa Yunani yang berarti "yang paling utama") adalah senyawa organik kompleks berbobot molekul tinggi yang merupakan polimer dari monomer-monomer asam amino yang dihubungkan satu sama lain dengan ikatan peptida. Molekul protein mengandung karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen dan kadang kala sulfur serta fosfor. Protein berperan penting dalam struktur dan fungsi semua sel makhluk hidup dan virus.Kebanyakan protein merupakan enzim atau subunit enzim. Jenis protein lain berperan dalam fungsi struktural atau mekanis, seperti misalnya protein yang membentuk batang dan sendi sitoskeleton. Protein terlibat dalam sistem kekebalan (imun) sebagai antibodi, sistem kendali dalam bentuk hormon, sebagai komponen penyimpanan (dalam biji) dan juga dalam transportasi hara. Sebagai salah satu sumber gizi, protein berperan sebagai sumber asam amino bagi organisme yang tidak mampu membentuk asam amino tersebut (heterotrof).Protein merupakan salah satu dari biomolekul raksasa, selain polisakarida, lipid, dan polinukleotida, yang merupakan penyusun utama makhluk hidup. Selain itu, protein merupakan salah satu molekul yang paling banyak diteliti dalam biokimia. Protein ditemukan oleh Jöns Jakob Berzelius pada tahun 1838. Biosintesis protein alami sama dengan ekspresi genetik. Kode genetik yang dibawa DNA ditranskripsi menjadi RNA, yang berperan sebagai cetakan bagi translasi yang dilakukan ribosom (Ussery, 1998) Sampai tahap ini, protein masih "mentah", hanya tersusun dari asam amino proteinogenik. Melalui mekanisme pascatranslasi, terbentuklah protein yang memiliki fungsi penuh secara biologi. (Abrams, 2010)

Banyaknya fungsi dari protein yang diketahui dan manfaatnya bagi kehidupan misalnya sebagai salah satu sumber gizi maka dalam pemanfaatannya protein digunakan sebagai sumber gizi yang utama. Berbagai jenis macam protein dapat ditemukan misalnya pada hewan dan tumbuhan. Protein yang terdapat pada hewan disebut protein hewani sedangkan pada tumbuhan disebut protein nabati. Banyaknya kadar protein hewani dari tiap-tiap hewan berbeda-beda, begitu pula kadar protein nabati pada tumbuhan berbeda-beda. Adanya perbedaan kadar kandungan protein pada tumbuhan ini maka berdasarkan uraian diatas, penelitian yang berjudul “Uji Kadar Asam Amino dan Protein”,peneliti akan melakukan uji kadar protein pada tumbuhan umbi-umbian.

b. Rumusan masalah

Adapun yang menjadi masalah pokok dalam penelitian ini adalah “apakah terdapat kandungan protein dari albumin telur dan umbi lokal dengan melakukan uji protein?”

c. Tujuan

Tujuan yang akan dicapai pada praktikum ini adalah mengetahui sifat kelarutan dan denaturasi yang berkaitan dengan albumin protein

Bab II. Kajian Pustaka

Protein tersusun dari berbagai asam amino yang masing-masing dihubungkan dengan ikatan peptida. Meskipun demikian, pada awal pembentukannya protein hanya tersusun dari 20 asam amino yang dikenal sebagai asam amino dasar atau asam amino baku atau asam amino penyusun protein (proteinogenik). Asam-asam amino inilah yang disandi oleh DNA/RNA sebagai kode genetik.

Umbi-umbian merupakan komoditas pertanian yang tersebar luas di Indonesia. Umbi-umbian merupakan salah satu sumber utama karbohidrat. Umbi adalah akar tanaman yang telah termodifikasi menjadi organ penyimpan cadangan makanan. Contoh umbi-umbian adalah ketela rambat, singkong dan kentang (Desrosier, 1988).

Albumin (bahasa Latin: albus, white) adalah istilah yang digunakan untuk merujuk ke segala jenis protein monomer yang larut dalam air dan larutan garam, dan mengalami koagulasi saat terpapar panas. Substansi yang mengandung albumin, seperti putih telur, disebut albuminoid. Pada manusia, albumin diproduksi oleh hati dalam bentuk prealbumin dan memenuhi sekitar 60% jumlah serum darah dengan konsentrasi antara 30 hingga 50 g/L(anonim2, 2011) dengan waktu paruh sekitar 20 hari. Albumin memiliki berat molekul sekitar 65 kD dan terdiri dari 584 asam amino tanpa karbohidrat. Gen untuk albumin terletak pada kromosom 4, mutasi pada gen ini dapat mengakibatkan berbagai macam protein dengan fungsi yang tidak beraturan (bahasa Inggris: anomalous protein) Denaturasi adalah sebuah proses di mana protein atau asam nukleat kehilangan struktur tersier dan struktur sekunder dengan penerapan beberapa tekanan eksternal atau senyawa, seperti asam kuat atau basa, garam anorganik terkonsentrasi, sebuah misalnya pelarut organik (cth, alkohol atau kloroform), atau panas. Jika protein dalam sel hidup didenaturasi, ini menyebabkan gangguan terhadap aktivitas sel dan kemungkinan kematian sel. protein didenaturasi dapat menunjukkan berbagai karakteristik, dari hilangnya kelarutan untuk agregasi komunal. Denaturisasi dalam pengertian ini tidak digunakan dalam penyusunan bahan kimia industri alkohol didenaturasi(Anonim3, 2011)

Reagen biuret berfungsi untuk menguji kandungan protein dalam suatu zat (makanan) apabila setelah ditetesi biuret, makanan/ sari makanan yang mengandung protein akan berubah menjadi berwarna ungu. Reagen Fehling a dan b berfungsi untuk menguji kandungan glukosa dalam suatu zat (makanan) apabila setelah ditetesi fehling, makanan/ sari makanan yang mengandung glukosa akan berubah menjadi berwarna merah bata. Reagen benedict berfungsi mirip dengan fehling a dan b, yaitu untuk menguji kandungan glukosa dalam suatu zat (makanan) apabila setelah diberi benedict, makanan/ sari makanan yang mengandung glukosa akan berubah menjadi berwarna kuning, hijau, atau merah. (Arifiandi, 2009)

Bab III. Metode Penelitian

a. Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada bulan april 2011 dan bertempat di Laboratorium Pengembangan Unit Kimia Jurusan P. MIPA Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan Universitas Haluoleo Kendari.

b. Alat dan bahan

Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini adalah
- Penangas air
- Filler 1 buah
- Botol semprot 1 buah
- Batang pengaduk 3 buah
- Corong 1 buah
- Sentrifuga
- 1 Rak Tabung reaksitabung reaksi 1 buah
- Pipet ukur 5 mL dan 10 m 1 buah
- Gelas kimia 300 mL 2 buah
- Gelas ukur 50 mL 2 buah

Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah

- larutan protein albumin
- Larutan (NH4)2SO4
- Reagen untuk uji biuret
- Aquades
- Asam asetat 1 M
- Umbi lokal








b. Pembahasan

Protein terdapat di semua jaringan sel hidup, baik pada tanaman maupun hewan. Setelah air, protein merupakan komponen yang terbesar darim tubuh manusia. Seperenam berat manusia terdiri atas protein. Sepertiga dari jumlah tersebut terdapat pada otot, seperlima bagian terdapat pada tulang dan tulang rawan, seper sepuluh terdapat pada kulit dan sisanya terdapat pada organ lain serta cairan tubuh. Pada umumnya, protein diperlukan tubuh untuk:

a. Pertumbuhan dan pengembangan tubuh.
b. Perbaikan dan pergantian sel-sel jaringan tubuh yang rusak.
c. Produksi enzim pencernaan dan enzim metabolisme.
d. Bagian yang terpenting dari hormon-hormon tertentu seperti tiroksin dan insulin (Winarno, 1993).

Pada Percobaan ini dilakukan uji dari sifat protein yakni uji pengendapan dengan garam , uji koagulasi, pengendapan dengan alcohol dan denaturasi protein. Pada uji pengendapan dengan garam, larutan protein dijenuhkan hingga keruh menggunkan (NH4)2SO4 . penambahan garam tersebut maka akan terbbentuk endapan. Hal ini sesuai menurut Stryer. Menurut Stryer Daya larut kebanyakan protein dalam larutan garam dengan konsentrasi tinggi menjadi rendah. Efek ini dikenal dengan salting out (Stryer, 2000). Hubungan daya larut protein dengan kadar garam berbeda antara satu protein dengan protein lainnya. Sehingga cara salting out ini dapat digunakan untuk fraksinsai protein. Salting out juga dapat digunakan untuk memekatkan larutan encer protein

Pada uji koagulasi protein, Protein yang digunakan merupakan albumin atau putih telur. Pada uji ini, albumin ditambahkan dengan asam asetat dan apabila dipanaskan maka akan terbentuk endapan. Koagulasi yang dimaksud adalah merupakan proses penggumpalan atau pembekuan sehingga membentuk endapan. Misalnya jika terjadi luka, langkah awal koagulasi adalah dengan pelepasan komponen fosfolipid (en:phospholipid) yang disebut faktor jaringan (en:tissue factor) dan fibrinogen sebagai inisiasi sebuah reaksi berantai]. Segera setelah itu keping darah bereaksi membentuk penyumbat pada permukaan luka, reaksi ini disebut hemostasis awal (en:primary). Hemostasis lanjutan (en:secondary) terjadi hampir bersamaan:protein dalam plasma darah yang disebut faktor koagulasi merespon secara berjenjang dan sangat rumit untuk membentuk jaring-jaring fibrin yang memperkuat penyumbatan keping darah (Furie, 2005)

Pada uji selanjutnya pada protein dilakukan dengan pengendapan dengan alcohol. Alcohol yang dimaksudkan merupakan etanol 96% . penambahan dengan menggunakan etanol yang ditambahkan pada albumin telur akan menimbulkan endapan. Dengan ditambahkan NaOH akan terbentuk 2 lapisan yakni lapisan atas berwarna bening dan bawah berwarna keruh. Pada proses denaturasi protein, Albumin telur ditambahkan dengan HCl dan NaOH. Penambahan tersebut menimbulkan endapan. Terbentuknya endapan tersebut di sebut denaturasi . Denturasi merupakan sebuah proses di mana protein atau asam nukleat kehilangan struktur tersier dan struktur sekunder dengan penerapan beberapa tekanan eksternal atau senyawa, seperti asam kuat atau basa, garam anorganik terkonsentrasi, sebuah misalnya pelarut organik (cth, alkohol atau kloroform), atau panas. ika protein dalam sel hidup didenaturasi, ini menyebabkan gangguan terhadap aktivitas sel dan kemungkinan kematian sel. protein didenaturasi dapat menunjukkan berbagai karakteristik, dari hilangnya kelarutan untuk agregasi komunal. Denaturisasi dalam pengertian ini tidak digunakan dalam penyusunan bahan kimia industri alkohol didenaturasi.

Sel mengandung ratusan hingga ribuan jenis protein. Fraksinasi terhadap protein dapat dilakukan untuk memperoleh preparat protein murni tertentu sebelum ditentukan komposisi dan deret asam amino penyusunnya (Lehninger, 1982). Protein dapat dimurnikan berdasarkan ukuran, daya larut, dan afinitas pengikatan (Stryer, 2000). Pemisahan dan pemurnian protein dapat dilakukan dengan cara:

a. Dialisis
Protein dapat dipisahkan dari senyawa dengan berat molekul rendah yang ada di dalam ekstrak sel atau jaringan dengan proses dialisis. Molekul besar seperti protein ditahan di dalam kantong terbuat dari senyawa berpori amat halus, seperti selopan. Jadi, jika kantong yang mengandung ekstrak sel atau jaringan dimasukkan ke dalam air, molekul kecil di dalam ekstrak jaringan, seperti garam, akan melalui pori-pori, tetapi protein dengan berat molekul tinggi akan tertahan di dalam kantong (Lehninger, 1982).

b. Elektroforesis
Protein dapat juga dipisahkan satu dari yang lain oleh elektroforesis berdasarkan tanda dan jumlah muatan listrik pada gugus R dan gugus termal asam amino dan terminal karboksil yang bermuatan. Seperti peptida sederhana, rantai polipeptida protein mempunyai titik isoelektrik yang khas, yang akan mencerminkan jumlah relatif gugus R asam dan basa (Lehninger, 1982). Kecepatan migrasi protein dalam medan listrik tergantung pada kekuatan medan listrik, muatan protein, dan koefisian pergesekan (Stryer, 2000).

Daya larut kebanyakan protein dalam larutan garam dengan konsentrasi tinggi menjadi rendah. Efek ini dikenal dengan salting out Hubungan daya larut protein dengan kadar garam berbeda antara satu protein dengan protein lainnya. Sehingga cara salting out ini dapat digunakan untuk fraksinsai protein. Salting out juga dapat digunakan untuk memekatkan larutan encer protein (Stryer, 2000).

Pengendapan protein dengan garam dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu pH, temperatur, konsentrasi protein, dan garam yang digunakan. Konsentrasi protein merupakan faktor terpenting dalam scaling-up karena pemurnian skala besar memberikan hasil yang lebih banyak dibanding skala laboratorium (Walker dkk., 1988). Pengendapan protein dalam ekstrak sel dan jaringan dapat dilakukan dengan penambahan reagen, diantaranya:

1). Amonium sulfat
Amonium sulfat merupakan garam yang umum digunakan dalam pengendapan protein secara salting out karena memiliki kelarutan yang tinggi, tidak toksik, dan murah (Walker dkk., 1988).

2). Pelarut organik
Penambahan pelarut organik dalam larutan encer akan mengurangi kelarutan protein dengan mengurangi konstata dieletrika dalam medium. Pelarut organik yang dapat digunakan untuk mengendapkan protein yaitu etanol, aseton, propan-2-ol. Protein mudah didenaturasi oleh pelarut organik, maka dalam pengerjaannya dilakukan pada temperatur 00C. Pelarut organik mudah terbakar, mahal dan memiliki selektifitas rendah karenanya jarang digunakan untuk pemurnian enzim dalam skala besar (Walker dkk., 1988).

3). Polimer BM Tinggi
Organik lain juga dapat digunakan untuk pemurnian protein yaitu polietilenglikol. Senyawa ini tidak toksik, tidak mudah terbakar dan tidak mendenaturasi protein (Walker dkk., 1988).

Bab V. Penutup

a. Kesimpulan

Kesimpulan pada percobaan ini yakni uji protein dengan albumin telur dilakukan yakni uji pengendapan dengan garam , uji koagulasi, pengendapan dengan alcohol dan denaturasi protein. Uji-uji tersebut dilakukan untuk mengetahui sifat-sifat dari protein dimana pada akhirnya akan terbentuk endapan. Serta pada akhirnya di uji dengan reagen biuret dan hasilnya positif terdapat protein,

b. Saran

Saran yang dapat saya sampaikan pada percobaan kali ini adalah:
1. Agar penelitian ini lebih dilanjutkan dengan variasi tumbuhan yang berbeda-beda
2. Pada penentuan uji kadar protein yang dilakukan sebaiknya dilakukan uji kadar dengan metode yang berbeda misalnya dengan metode KLT , Tes UV-Absorbsi, Reaksi Xanthoprotein, Reaksi Millon, Reaksi Ninhydrin, Reaksi Biuret, Reaksi Bradford, Tes Protein berdasar Lowry,dan Tes BCA-

Daftar Pustaka

Anonim, 2011. Asam Amino. http://www.wikipedia.com. Diakses 29 april
………………........Albumin Kapsul, Madu Albumin". http://www.biohexa.com/. Diakses pada 2 mei 2011.
……………..Denaturasi. http://www.wikipedia.com. Diakses pada 2 mei 2011.
Arifiandi M, 2009 . Fungsi Uji Biuret, Uji Fehling, Uji Benedict . http://www.yahoo.co.id. Diakses 2 mei 2011
Desrosier, N.W. 1987. Teknologi Pengawetan Pangan. Jakarta : UI Press.
Furie B, Furie BC (2005). "Thrombus formation in vivo". J. Clin. Invest. 115 (12): 3355–62. doi:10.1172/JCI26987. PMID 16322780. http://www.jci.org/cgi/content/full/115/12/3355. Templat:PMC
Jolane Abrams. 2010. DNA, RNA, and Protein: Life at its simplest. http://www.postmodern.com/~jka/rnaworld/nfrna/nf-rnadefed.html
Lehninger, L. A., 1982, Dasar-Dasar Biokimia, alih bahasa oleh Thenawidjaja, M, 144-146, Erlangga, Jakarta.
Sismindari, Sudjadi, Sulistyani, N., 2002, Aktivitas Pemotongan DNA Superkoil oleh Fraksi Protein Daun Morinda citrifolia, Majalah Farmasi Indonesia,
13 (4), 174-179.
Stripe, F., Bateli, M. G., Soria, M., Lappi, D. A., 1992, Ribosom-inactivating Proteins from Plants present Status and Furture Prospects, Bio Technology, Vol.10
Stryer, L., 2000, Biokimia, alih bahasa oleh Sadikin, hal 47-51, ECG, Jakarta
UsseryD.1998.Gene Expression & Regulation. http://www.cbs.dtu.dk/staff/dave/DNA_CenDog.html
Winarno, F.G. 1993. Pangan: Gizi, Teknologi dan Konsumen. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Walker, J. M., and Gingold, E. B., 1988, Molecular Biology and Biotechnology, 2nd, 303-304, The Royal Socienty of Chemistry, Burlington House, London.

Jumat, 29 April 2011

Uji Antioksidan

LAPORAN PRAKTIKUM BOIKIMIA
PERCOBAAN VI
UJI ANTIOKSIDAN




OLEH:
NAMA : R. ALIP RAHARJO
STAMBUK : A1C4 08 027
PRODI : PEND. KIMIA
KELOMPOK : VI (ENAM)


LABORATORIUM PENGEMBANGAN UNIT KIMIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2011

Bab I. Pendahuluan

a. Latar Belakang

Antioksidan merupakan zat yang mampu memperlambat atau mencegah proses oksidasi. Zat ini secara nyata mampu memperlambat atau menghambat oksidasi zat yang mudah teroksidasi meskipun dalam konsentrasi rendah. Antioksidan juga sesuai didefinisikan sebagai senyawa-senyawa yang melindungi sel dari efek berbahaya radikal bebas oksigen reaktif jika berkaitan dengan penyakit, radikal bebas ini dapat berasal dari metabolisme tubuh maupun faktor eksternal lainnya Radikal bebas adalah spesies yang tidak stabil karena memiliki elektron yang tidak berpasangan dan mencari pasangan elektron dalam makromolekul biologi. Protein lipida dan DNA dari sel manusia yang sehat merupakan sumber pasangan elektron yang baik. Kondisi oksidasi dapat menyebabkan kerusakan protein dan DNA, kanker, penuaan, dan penyakit lainnya. Komponen kimia yang berperan sebagai antioksidan adalah senyawa golongan fenolik dan polifenolik. Senyawa-senyawa golongan tersebut banyak terdapat dialam, terutama pada tumbuh-tumbuhan, dan memiliki kemampuan untuk menangkap radikal bebas. Antioksidan yang banyak ditemukan pada bahan pangan, antara lain vitamin E, vitamin C, dan karotenoid (Anonim, 2011)

Secara sederhana antioksidan dinyatakan sebagai senyawa yang mampu menghambat atau mencegah terjadinya oksidasi. Antioksidan memiliki kemampuan dalam memberikan elektron, mengikat dan mengakhiri reaksi berantai radikal bebas yang mematikan. Antioksidan yang dipakai kemudian didaur ulang oleh antioksidan lain untuk mencegahnya menjadi radikal bebas (bagi dirinya sendiri) atau tetap dalam bentuk tersebut tetapi dengan strukturm (Rohdiana, 2008)

Sayur dan buah dikenal sebagai sumber vitamin dan mineral. Sayur dan buah juga mengandung fitonutrien yang bersifat antioksidan yang dapat membantu tubuh menangkal berbagai penyakit . Di negara kita mempunyai banyak jenis sayuran yang dapat dimanfaatkan. Saat ini sayuran seperti brokoli, okra, kol brussel, paprika, lettuce, dan lain-lain, juga mudah ditemui di negara kita. Ditambah jenis-jenis lokal, banyak sekali sayuran yang dapat dimanfaatkan untuk menambah variasi resep. Misalnya Bayam mengandung vitamin C, folat, zat besi, seng dan karoten. Kaya akan antioksidan yang dapat merangsang fungsi pankreas untuk menghasilkan insulin (Widiantoro,2008).

Selain mengandung serat, bayam juga kaya betakaroten. 1 gelas bayam yang sudah dipetik bisa memenuhi 70% kebutuhan betakaroten per hari. Betakaroten (vitamin A), ditambah vitamin C membuat bayam bersifat antioksidan yang baik. (Tatik , 2010). Bayam juga mengandung asam folat, zat besi, dan seng.Serat pada bayam yang mampu mencegah sembil tidak memberi kesempatan pada zat karsinogen (zat penyebab kanker) "nyangkut" di dinding usus. Selain itu, klorofil pada bayam hijau mampu mencegah mutasi sel menjadi ganas. Pigmen merah pada bayam merah kaya flavonoid yang bersifat antioksidan yang mampu mencegah kanker.


b. Rumusan masalah

Adapun yang menjadi masalah pokok dalam penelitian ini adalah “Berapa kadar antioksidan pada tanaman bayam dan okra dengan menggunakan metode spektrofotometer?”

c. Tujuan
Tujuan yang akan dicapai pada praktikum ini adalah mengetahui besarnya kadar antioksidan dengan metode spekrofotometer

Bab II. Kajian Pustaka

A. Okra
Okra (Abelmoschus esculentus), dikenal di negara-negara berbahasa Inggris dengan nama Teman-jari wanita atau gumbo adalah tanaman berbunga di keluarga mallow . tanaman ini dibudidayakan di subtropis dan daerah beriklim sedang hangat, tropis di seluruh dunia

Kerajaan : Plantae
Division : Magnoliophyta
Class : Magnoliopsida
Order: : Malvales
Family : Malvaceae
Genus : Abelmoschus
Species : A. esculentus

Warna hijau pada sayuran, termasuk okra, disebabkan adanya pigmen klorofil. Klorofil memiliki sejuta manfaat karena bersifat antiradang,antimutagenik,antikanker, dan antioksidan. Sebagian antimutagenik dan antikanker, klorofil dapat mencegah kanker hati dan kanker kolon. Sebagai antioksidan, klorofil dapat mencegah oksidasi kolesterol jahat oleh radikal bebas, sehingga pembentukan plak pada pembuluh darah (aterosklerosis) dapat dicegah. Klorofil juga dapat menyembuhkan luka tanpa disertai pembengkakan (Hendry, 2011)

B. Bayam

Bayam (Amaranthus spp.) merupakan tumbuhan yang biasa ditanam untuk dikonsumsi daunnya sebagai sayuran hijau. Tumbuhan ini berasal dari Amerika tropik namun sekarang tersebar ke seluruh dunia. Tumbuhan ini dikenal sebagai sayuran sumber zat besi yang penting.

Kerajaan :Plantae
Divisi :Magnoliophyta
Kelas :Magnoliopsida
Ordo :Caryophyllales
Famili :Amaranthaceae
Upafamili :Amaranthoideae
Genus :Amaranthus L.

Bayam juga mengandung asam folat, zat besi, dan seng.Serat pada bayam yang mampu mencegah sembil tidak memberi kesempatan pada zat karsinogen (zat penyebab kanker) "nyangkut" di dinding usus. Selain itu, klorofil pada bayam hijau mampu mencegah mutasi sel menjadi ganas. Pigmen merah pada bayam merah kaya flavonoid yang bersifat antioksidan yang mampu mencegah kanker (Tatik , 2010).

Bab III. Metode Penelitian
a. Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada bulan april 2011 dan bertempat di Laboratorium Pengembangan Unit Kimia Jurusan P. MIPA Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan Universitas Haluoleo Kendari.
b. Alat dan Bahan
Alat alat yang digunakan pada praktikum ini adalah
a) Gelas kimia 100 ml f) mortal
b) Erlenmeyer 250 ml g) Pipet tetes
c) Corong pisah 100 ml h) Filler
d) Pipet volume 100 ml i) Batang pengaduk
e) Corong
Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah
a. Bayam merah dan okra i. Pereaksi Dragendorff
b. Aquades j. CHCl3 amoniakal
c. FeCl3 10% k. Pereaksi mayer
d. Gelatin 10% l. Metanol
e. n-heksan m. Etanol 96%
f. Logam magnesium n. HCl pekat
g. Folin ciocalteau o. Asam Tanat
h. Na2CO3 5%

Prosedur kerja








b. Pembahasan

Antioksidan merupakan senyawa yang dapat menghambat oksidasi dengan cara bereaksi dengan radikal bebas reaktif membentuk radikal bebas tak reaktif yang relatif stabil. Senyawa fenolik dan flavonoid merupakan sumber antioksidan alami yang biasanya terdapat dalam tumbuhan. Rimpang lengkuas merah (Alpinia galanga) merupakan salah satu tanaman yang berkhasiat dalam pengobatan dan mengandung senyawa fenolik dan flavonoid. Adanya kandungan flavonoid dalam lengkuas merah tersebut mendorong untuk melakukan pengujian aktivitas antioksidan sehingga dapat digunakan sebagai antioksidan alami (Oktariana, 2008)

Senyawa antioksidan saat ini bermanfaat untuk berbagai bidang seperti dalam bidang pangan, industri tekstil, minyak bumi, bahan pewarna dan lain-lain. Riset tentang pengembangan senyawa berkhasiat antioksidan telah banyak dikembangkan baik senyawa alam maupun senyawa sintetis. Senyawa antioksidan adalah senyawa yang berperanan untuk menghambat proses autooksidasi dalam minyak atau lemak (Ketaren, 1986). Donnelly (1996) telah melaporkan berbagai senyawa yang dapat berkhasiat sebagai antioksidan dan bisa digunakan dalam bahan makan. Selain dalam bidang pangan, senyawa antioksidan sangat dibutuhkan juga dalam berbagai industri seperti industri tekstil (Bangee et al, 1995), perminyakan (Pan et al, 1998 dan Jones & Balster,1997) serta industri karet (Puspha et al, 1995).( Purwono, 2008)

Pada Percobaan penelitian yang dilakukan uji antioksidan terhadap sayuran bayam dan okra (kopi gandu). Pengujian yang dilakukan yakni pengujian senyawa-senyawa fitokimia dalam sayuran bayam dan Okra. Uji fitokimia yang dilakukan adalah Uji Alkaloid, Flavonoid, dan Tanin. Pada uji fitokimia pada sayur bayam dan okra digunakan pereaksi khusus yakni pereaksi Meyer dan Gragendroff serta Fecl3 dan Gelatin 10%. Pada sayuran bayam Merah, Untuk uji alkaloid memiliki kadar alkaloid yang rendah, untuk uji flavonoid bayam memiliki kadar flavonoid yang tinggi, sedangkan untuk kadar tannin, bayam memiliki kadar tannin yang sedikit. Untuk sayuran Okra, Kandungan Flavonoid dan tannin sangat sedikit sedangkan kandungan Alkaloidnya sangat tinggi.

Menurut Robinson (1995), senyawa tanin memiliki aktivitas antioksidan, menghambat pertumbuhan tumor, menghambat enzim reverse transcriptase dan DNA topoisomerase. Selanjutnya menurut Harismah (2002), sifat antibakteri tanin diakibatkan oleh gugus pirogalol dan gugus galoil. Suragih (2002) menyatakan bahwa katekin, leukoantosianin dan asam galat merupakan senyawa tanin yang terdapat pada biji X. granatum yang berperan sebagai antibakteri (Dewi, 2008). Dengan adanya senyawa fitokimia seperti tannin maka akan diketahui bahwa tumbuhan akan memiliki zat antioksidan.

Setelah diketahui kandungan fitokimia dari sayuran bayam dan okra, maka akan diketahui kadar antioksidan dari masing-masing sayuran dengan menggunakan instrument spektrofotometer. Pengujian antioksidan biasanya dilakukan dengan menggunakan pendekatan analisis Hansch yang menerapkan kajian aktivitas antioksidan sebagai fungsi dari variabel-variabel sterik, hidrofobik dan elektronik. Hasil lebih jauh diharapkan dapat digunakan untuk melakukan desain senyawa turunan flavonol dan flavon baru yang berkhasiat antioksidan (Purwono, 2008). Selain metode tersebut, pengujian antioksidan biasanya dilakukan dengan metode tiosianat dan DPPH.

Dalam pengukuran kadar antioksidan dari sayuran bayam dan okra dilakuakan penyerapan adsorbansi dari tiap senyawa alkaloid , flavonoid dan tannin dari masing-masing sayuran bayam dan okra tersebut. Setelah dilakukan pengukuran dengan menggunakan spektrofotometer, maka didapatkan adsorbansi dari masing-masing senyawa dalam sayuran okra dan bayam. Untuk sayuran bayam adsorbansi tertinggi didapatkan pada senyawa tannin sebesar 0.525 . Sama halnya dengan sayuran Okra memiliki adsorbansi tertinggi pada senyawa tannin sebesar 0.249. Menurut Robinson (1995), senyawa tanin memiliki aktivitas antioksidan, menghambat pertumbuhan tumor, menghambat enzim reverse transcriptase dan DNA topoisomerase (Dewi, 2008). Pada adsorbansi tersebut, dalam mengukur nilai adsorbansi digunakan standar adsorbansi asam tanat 

Bab V. Penutup

a. Kesimpulan

Kesimpulan pada percobaan ini yakni berdasarkan dari uji fitokimia dari sayuran bayam dan okra didapatkan senyawa-senyawa fitokimia yakni Alkaloid, Flavonoid, dan Tanin. Adsorbansi dari senyawa tersebut didapatkan. adsorbansi terbesar didapatkan pada senyawa tannin. Untuk bayam adsorbansinya 0.525 sedangkan pada okra sebesar 0.249. sehingga kadar antioksidan terbesar terdapat pada sayuran bayam.

b. Saran

1. Pada penelitian ini perlu dilakukan penelitian yang lebih terperinci dengan misalnya menggunakan metode yang berbeda misalnya metode tiosianat dan metode DPPH untuk menentukan antioksidan.
2. Penelitian ini sebaiknya disertai dengan alat-alat praktikum yang memadai dan layak untuk dipakai sehingga tidak perlu lagi meminjam alat dengan kelompok lain 

Daftar Pustaka

Anonim, 2011. Antioksidan. Wikipedia Indonesia. wikipedia.org
Oktariana E. W. 2008 . Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Rimpang Lengkuas Merah (Alpinia galanga) dengan Metode DPPH (1.1-difenil-2-pikrihidrazil).

Purwono B.. 2008. Terapan Analisis Hansch untuk Aktivitas Antioksidan Senyawa Turunan Flavon/Flavonol . Laboratorium Kimia Organik Jurusan Kimia Fakultas MIPA UGM Jogjakarta

Rohdiana D. 2008. Teh Hitam dan Antioksidan. Pusat Penelitian Teh dan Kina Gambung.

Rubbi Widiantoro,2008. Sajian Sayuran Sumber Antioksidan. swaberita.com
Sari D.K., 2008. Penapisan Antibakteria dan Inhibitor Topoisomerase I dari Xylocarpus granatum. Sekolah pascasarjana Institut pertanian Bogor .Bogor 2008

Tatik. 2010. Profil Buah & Sayur: Bayam. Intisari. Intisari.online.com