Tampilkan postingan dengan label LAPORAN KIMIA ANORGANIK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LAPORAN KIMIA ANORGANIK. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Maret 2011

PEMBUATAN GARAM KOMPLEKS DAN GARAM RANGKAP

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK


PERCOBAAN 6


PEMBUATAN GARAM KOMPLEKS DAN GARAM RANGKAP


NAMA : RADEN ALIP RAHARJO


STAMBUK : A1C4 08 027


KELOMPOK :




LABORATORIUM PENGEMBANGAN UNIT KIMIA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


UNIVERSITAS HALUOLEO


KENDARI


2010


PEMBUATAN GARAM KOMPLEKS DAN GARAM RANGKAP

I. Tujuan dan Prinsip Percobaan
A. Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari praktikum kali ini adalah untuk mempelajari pembuatan dan sifat-sifat garam rangkap kupri ammonium sulfat dan garam kompleks tetraamin tembaga (II) sulfat monohidrat.

B. Prinsip Percobaan
Prinsip percobaan praktikum ini adalah pengkristalan dimana bebarapa garam dapat mengkristal dari larutannya dengan mengikat sejumlah molekul air sebagai hidrat.

II. Teori
Dalam proses reaksinya, terjadi perubahan warna pada larutan logam. Perubahan warna tersebut dimungkinkan berasal dari proses kompleksasi Cu(II) dari fasa cair dengan etilendiamin yang berada pada fasa padatan membran. Warna yang dihasilkan mendekati warna kompleks Cu(II)-etilendiamin 1:1. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa sistem larutan tersebut mengandung campuran kompleks Cu(II)-etilendiamin 1:1 dengan ion Cu(II) bebas. Hal ini ditunjukkan oleh adanya pergeseran puncak absorbsi dari masing-masing larutan tersebut (gambar 9-11). Berdasarkan hasil tersebut, selain pergeseran panjang gelombang juga terjadi kenaikan intensitas absorbansi pada larutan hasil reaksi. Kenaikan tersebut muncul akibat adanya spesies kompleks Cu(en)2+ didalam larutan yang terbentuk pada saat proses reaksi antara Cu (II) dengan membran nata-en. Adanya campuran ion Cu(II) bebas dan kompleks Cu(en)2+ dalam fasa larutan berkaitan dengan proses pelepasan etilendiamin ke sistem larutan serta berhubungan dengan proses kesempurnaan reaksi antara Cu(II) dengan etilendiamin. Dalam hal ini, reaksi tersebut berlangsung pada kondisi dimana jumlah molekul Cu(II) jauh lebih banyak dibandingkan jumlah molekul etilendiamin. Dapat dinyatakan bahwa Cu(II) merupakan pereaksi pembatas dalam proses reaksi tersebut (Kuswandi, 2008)

Garam kompleks berbeda dengan garam rangkap. Garam rangkap dibentuk apabila dua garam mengkristal bersama-sama dalam pertandingan molekul tertentu. Garam-garam ini memiliki struktur sendiri dengan tidak harus sama dengan struktur garam komponennya. Dua contoh garam rangkap yang sering dijumpai dalam garam alumina, KaI(SO4)12H2O dan ferroammonium sulfat, Fe(NH3)SO46H2O. Garam rangkap dalam larutan akan terionisasi menjadi ion-ion komponennya (Arifin, 2010)

Menurut Saito[3], untuk mendapatkan pemisahan yang baik 90Y3+ harus dikondisikan agar membentuk senyawa kompleks anion. Perbedaan muatan antara 90Y dengan 90Sr menjadi dasar pemisahan dengan menggunakan resin penukar kation. Ion Sr2+ akan terikat pada resin penukar kation dan kompleks anion itrium seperti [YCl6]3- terelusi keluar kolom secara keseluruhan. Pengembangan generator 90Sr/90Y untuk produksi 90Y secara lokal telah dilakukan dan dikembangkan di India berdasarkan pada teknik pemisahan menggunakan membran sel, dan teknik yang dikembangkan ini berhasil memisahkan sampai 70 mCi 90Y dari 100 mCi 90Sr yang digunakan sedangkan dengan metode ekstraksi pelarut hasil yang tertinggi diperoleh 75% 90Y[4] (Kundari, 2007)

Ligan dapat dengan baik diklassifikasikan atas dasar banyaknya titik-lekat kepada ion logam. Begitulah, ligan-ligan sederhana, seperti ion-ion halida atau molekul-molekul H2O atau NH3, adalah monodentat, yaitu ligan itu terikat pada ion logam hanya pada satu titik oleh penyumbangan satu pasanagan-elektron-menyendiri kepada logam. Namun, bila molekul atau ion ligan itu mempunyai dua atom, yang masing-masing mempunyai satu pasangan elektron menyendiri, maka molekul itu mempunyai dua atom-penyumbang, dan adalah mungkin untuk membentuk dua ikatan-koordinasi dengan ion logam yang sama; ligan seperti ini disebut bidentat dan sebagai contohnya dapatlah diperhatikan kompleks tris(etilenadiamina) kobalt(III), [Co(en)3]3+. Dalam kompleks oktahedral berkoordinat-6 (dari) kobalt(III), setiap molekul etilenadiamina bidentat terikat pada ion logam itu melalui pasangan elktron menyendiri dari kedua ataom nitrogennya. Ini menghasilkan terbentuknya tiga cincin beranggota-5, yang masing-masing meliputi ion logam itu; proses pembentukan cincin ini disebut penyepitan (pembentukan sepit atau kelat) (Firdaus, 2009)

Garam Mohr (NH4)2SO4.[Fe(H2O)6]SO4 cukup stabil terhadap udara dan terhadap hilangnya air, dan umumnya dipakai untuk membuat larutan baku Fe2+ bagi analisis volumetrik dan sebagai zat pengkalibrasi dalam pengukuran magnetik. Sebaiknya FeSO4.7H2O secara lambat melapuk dan berubah menjadi kuning coklat bila dibiarkan dalam udara. Penambahan HCO3- atau SH- kepada larutan akua Fe2+ berturut-turut mengendapkan FeCO3 dan FeS. Ion Fe2+ teroksidasi dalam larutan asam oleh udara menjadi Fe3+. Dengan ligan-ligan selain air yang ada, perubahan nyata dalam potensial bias terjadi, dan system FeII – FeIII merupakan contoh yang baik sekali mengenai efek ligan kepada kestabilan relatif dari tingkat oksidasi [5] (Syabatini, 2008)

Reaksi yang membentuk kompleks dapat dianggap sebagai reaksi asam-basa Lewis dengan ligan bekerja sebagai basa dengan memberikan sepasang elektron kepada kation yang merupakan suatu asam. Ikatan yang terbentuk antara atom logam pusat dan ligan sering kovalen, tetapi dalam beberapa keadaan interaksi dapat merupakan gaya penarik coulomb. Beberapa kompleks mengadakan reaksi subtitusi dengan sangat cepat, dan kompleks demikian dikatakan labil (Underwood, 1980)

Keistimewaan yang khas dari atom-atom logam transisi grup d adalah kemampuannnya untuk membentuk kompleks dengan berbagai molekul netral, seperti karbon monoksida, isosianida, fosfin tersubtitusi, arsin dan stibin, nitrat oksida, dan berbagai molekul dengan orbital π yang terdelokalisasi, seperti piridin, 2,2-bipiridin dan 1,10-fenontrolin. Terdapat jenis-jenis kompleks yang beragam, beranah dari molekul senyawaan biner seperti Cr(CO)6 atau Ni(PF3)4 sampai ion kompleks seperti [Fe(CN)5CO]3-, [Mo(CO)5I]-, [Mn(CNR)6]+, dan [Vfen]+ (Cotton, 1989) 

III. Metode Praktikum
A. Alat dan bahan yang digunakan
Alat alat yang digunakan pada praktikum ini adalah
a) 3 buah tabung reaksi besar dan kecil
b) 1 buah gelas ukur 50 ml
c) 1 buah gelas ukur 10 ml
d) 2 buah gelas ukur 100 ml
e) 2 buah gelas arloji
f) Kertas saring
g) Pipet skala 1 ml
h) 1 set pemanas
i) 1 set pompa vakum
Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah
o Kristal CuSO4.5H2O
o Kristal(NH4)2SO4
o Etil alkohol dan ammonia serta aquades







C. Pembahasan
Garam rangkap merupakan perpaduan dari suatu senyawa koordinasi yang terikat oleh sejumlah molekul air hidrat. Garam rangkap dibentuk apabila dua garam mengkristal bersama-sama dengan perbandingan molekul tertentu. Garam-garam ini mengandung ion-ion kompleks dan dikenal sebagai senyawa koordinasi atau garam kompleks. Garam rangkap yang dibuat adalah CuSO4(NH4)2 SO4.6H2O. Garam ini terbentuk sebagai hasil reaksi antara CuSO4.5H2O dan (NH4)2SO4. Garam kupri sulfat pentahidrat CuSO4.5H2O berwarna biru muda sedangkan garam ammonium sulfat (NH4)2SO4 berwarna putih.

Hasil pencampuran dua garam tersebut akan menghasilkan larutan yang berwarna biru keruh. Warna biru keruh tersebut terjadi sebagai akibat campuran yang kurang sempurna (heterogen) namun setelah pemanasan, kekeruhan tersebut berangsur-angsur hilang dan membentuk larutan homogen berwarna biru. Air mempunyai momen dipol yang besar dan ditarik baik ke kation maupun anion untuk membentuk ion terhidrasi. Dari sifatnya tersebut maka digunakannya pelarut air karena kedua garam yang bereaksi dapat larut dalam air dan tetap berupa satu spesies ion. Kebanyakan garam anorganik lebih dapat larut dalam air murni daripada dalam pelarut organik. Larutan segera ditutupi dengan kaca arloji sehingga dapat mencegah menguapnya beberapa ion yang diinginkan untuk dapat membentuk kristal monoklin sempurna.

Pembentukan larutan jenuh dapat dipercepat dengan pengadukan yang kuat dari zat terlarut yang berlebih seperti yang kita lakukan dalam percobaan ini hingga terbentuk larutan yang jenuh dimana ketika telah mencapai keadaan ini dan melewatinya maka akan memperkecil hasil kali kelarutannya sehingga ketika didinginkan maka akan terbentuk endapan berupa kristal garam rangkap ammonium tembaga (II) sulfat heksahidrat yang berwarna hijau. Kristal ini kemudian kita timbang dan didapatkan beratnya sebesar 4,45 gram. Dari perhitungan secara teori, berat garam rangkap yang dihasilkan adalah sebesar 3,995 gram sehingga dengan membandingkan berat eksperimen dan berat teoritisnya maka didapatkan rendamen sebesar 111,4 %. Hasil ini menunjukkan bahwa dalam percobaan ini, kristal yang didapatkan melebihi. Mungkin dikarenakan saat pengeringan kristal, kristal tersebut belum terlalu kering, sehingga masih ada titik-titik air yang masih bercampur pada kristal tersebut.

Adapun percobaan selanjutnya yaitu pembuatan garam kompleks yang merupakan suatu garam yang terbentuk karena ion atom pusat dan ligan saling mengkompleks sehingga membentuk senyawa kompleks yang merupakan senyawa berwarna. Pada umumnya, atom pusat pada senyawa kompleks berasal dari logam-logam transisi yang dalam percobaan ini adalah tembaga yang bersifat elektropositif. Logam-logam transisi dapat membentuk kompleks karena memiliki orbital-orbital yang masih kosong. Ion logam yang bertindak sebagai atom pusat akan menyediakan orbital-orbital kosong yang dimilikinya. Sedangkan molekul netral atau anion yang bertindak sebagai ligan akan menyediakan pasangan elektronnya untuk mengisi orbital-orbital kosong yang tersedia.

Untuk logam tembaga (ion Cu2+) jika membentuk senyawa kompleks, maka kompleks tembaga (II) mempunyai bilangan koordinasi enam, dimana empat ligan bertetangga dalam bidang segi empat membentuk struktur oktahedral. Pada pembuatan garam kompleks tetra amin tembaga (II) sulfat monohidrat, CuSO4.5H2O direaksikan dengan ammonium hidroksida dimana yang bertindak sebagai atom pusat yaitu tembaga (ion Cu2+) sedangkan yang menjadi ligannya adalah tetra amin. Tembaga tersebut akan menerima pasangan elektron bebas dari ligan yaitu tetra amin sehingga akan membentuk senyawa kompleks melalui ikatan koordinasi dengan bilangan koordinasi enam sehingga akan membentuk struktur oktahedral. Garam kompleks yang diperoleh yaitu berwarna biru tua. Larutan garam kompleks ini didiamkan hingga membentuk kristal. Kemudian setelah itu disaring dan dikeringkan agar bisa ditimbang yang didapatkan berat kristalnya adalah sebesar 2,67 gram. Adapun secara teoritis, berat garam kompleks tetra amin tembaga (II) sulfat monohidrat diperoleh sebesar 1,955 gram. Dari hasil ini kita membandingkan antara berat praktik dan teori yaitu dengan rendamen sebesar 136,57%. Hal ini tentu menunjukkan bahwa terdapat kristal yang berlebih pada penimbangan secara praktiknya. Hal ini sebenarnya disebabkan oleh kristal yang belum kering dimana masih terdapat molekul-molekul air dari larutan sehingga ketika ditimbang menambah berat kristal dari yang seharusnya.

V. Simpulan
Kesimpulan dari percobaan ini adalah garam rangkap dapat disintesis dengan mereaksikan Cu(SO4)4.5H2O dan amonium sulfat. Rendamen yang diperoleh pada pembentukan garam rangkap adalah 111,4%. Pembentukan garam kompleks dapat dilakukan dengan mereaksikan CuSO4.5H2O yang logam Cu bertindak sebagai atom pusat dan NH4OH yang gugus amina bertindak sebagai ligan. Rendamen yang diperoleh pada pembentukan garam kompleks sebesar 136,57 %.

Daftar Pustaka

Arifin. 2010. Penuntun Kimia Anorganik II. Universitas Haluoleo. Kendari.
Cotton, Wilkinson, 1989. Kimia Anorganik Dasar I. Universitas Indonesia. Jakarta.
Day, Underwood, A. L. 1980. Analisa Kimia Kuantitatif. Erlangga. Jakarta.
Kundari, N.A. 2010. Pemisahan dan Karakterisasi Spesi Senyawa Kompleks Ytrium-90 dan Stronsium-90 Dengan Elektroforesis Kertas . Kawasan Puspiptek Serpong, Tangerang 15310, Banten
Pisesidharta .E, Zulfikar, Kuswandi B .2008 . Preparasi membran Nata de Coco etilendiammin dan Studi Karakteristik Pengikatnya terhadap Ion Cu 2+.Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Jember.
Firdaus, Ikhsan. 2009. Pengertian Senyawa Kompleks. http://www.chem-is-try.org. Diakses pada 9 November 2009.
Syabatini, Annisa. 2008. Garam Mohr (NH4)2.6H2O. http://google.com/ garam-mohr-nh426h2o.html.diakses 10 juni 2010.


Stoikiometri Kompleks Ammin-Tembaga (II)

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK


PERCOBAAN 5


Stoikiometri Kompleks Ammin-Tembaga (II)


NAMA : RADEN ALIP RAHARJO


STAMBUK : A1C4 08 027


KELOMPOK :




LABORATORIUM PENGEMBANGAN UNIT KIMIA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


UNIVERSITAS HALUOLEO


KENDARI


2010

Stoikiometri Kompleks Ammin-Tembaga (II)

I. Tujuan dan Prinsip Percobaan
A. Tujuan Praktikum
Tujuan percobaan ini dimaksudkan untuk menentukan rumus molekul kompleks ammin – tembaga (II)

B. Prinsip Percobaan
Percobaan ini didasarkan pada prinsip ekstraksi “like dissolved like” dimana senyawa polar akan larut dalam pelarut polar dan senyawa nonpolar akan larut dalam pelarut nonpolar

II. Teori
Dalam proses reaksinya, terjadi perubahan warna pada larutan logam. Perubahan warna tersebut dimungkinkan berasal dari proses kompleksasi Cu(II) dari fasa cair dengan etilendiamin yang berada pada fasa padatan membran. Warna yang dihasilkan mendekati warna kompleks Cu(II)-etilendiamin 1:1. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa sistem larutan tersebut mengandung campuran kompleks Cu(II)-etilendiamin 1:1 dengan ion Cu(II) bebas. Hal ini ditunjukkan oleh adanya pergeseran puncak absorbsi dari masing-masing larutan tersebut (gambar 9-11). Berdasarkan hasil tersebut, selain pergeseran panjang gelombang juga terjadi kenaikan intensitas absorbansi pada larutan hasil reaksi. Kenaikan tersebut muncul akibat adanya spesies kompleks Cu(en)2+ didalam larutan yang terbentuk pada saat proses reaksi antara Cu (II) dengan membran nata-en. Adanya campuran ion Cu(II) bebas dan kompleks Cu(en)2+ dalam fasa larutan berkaitan dengan proses pelepasan etilendiamin ke sistem larutan serta berhubungan dengan proses kesempurnaan reaksi antara Cu(II) dengan etilendiamin. Dalam hal ini, reaksi tersebut berlangsung pada kondisi dimana jumlah molekul Cu(II) jauh lebih banyak dibandingkan jumlah molekul etilendiamin. Dapat dinyatakan bahwa Cu(II) merupakan pereaksi pembatas dalam proses reaksi tersebut (Kuswandi, 2008)

kuasa cupric Yang yang mengoksidasi ( Cu2þ) garam adalah juga digunakan untuk mengkonversi mercaptans secara langsung ke dalam disulfides; bebaskan belerang tidaklah dipekerjakan, dan polysulfides tidaklah diperoleh. Proses mempekerjakan kupri-khlorid di hadapan solusi garam kuat, yang (mana) biasanya disusun oleh penghancuran tembaga sulfate di (dalam) suatu larutan mengandung air klorid sodium

Kupro-Khlorid [itu] ( Cucl) adalah dapat larut di (dalam) solusi garam, dan di sana adalah tidak (ada) hujan/timbulnya. Di bawah kondisi-kondisi operasi, suatu jumlah tertentu tembaga ditahan oleh minyak tanah yang dipermanis pecahan, [yang] mungkin [sebagai/ketika] cuprous mercaptides atau chloride-olefin penambahan produk cuprous, tetapi ini dapat dipindahkan dengan cucian material dengan sulfida sodium mengandung air. Udara memukul/ bertiup kupro-khlorid solusi, setelah atau sepanjang penggulaan; pemanis operasi, memperbaharui cupric klorid. tembaga khlorida [CuCI] Solusi mungkin (adalah) dipekerjakan sedemikian, atau pecahan yang asam mungkin yang disaring melalui suatu massa menyerap dipenuhi dengan agen yang yang [perlakukan/ traktir] [itu]. [Yang] sebagai alternatif, bensin mungkin (adalah) bergaul dengan suatu pengangkut padat untuk bahan reaksi,membubarkan sebagai slurry (Speight, 2006)

Ion tembaga memiliki konfigurasi elektron yang memungkinkan sebagai ion pusat suatu senyawa kompleks, seperti kompleks tembaga(II)guanin. Pengompleksan tembaga dengan guanin perlu dikaji karena guanin dalam sistem tubuh terlibat dalam proses katabolisme purin. Telah dilakukan penelitian tentang reaksi pengompleksan antara kation Cu2+ dengan guanin. Kemampuan guanin dalam mengikat Cu2+ sangat dipengaruhi oleh kemampuan deprotonasi guanin dalam kondisi keasaman larutan yang berbeda. Senyawa kompleks tembaga(II)guanin dihasilkan dengan cara memvariasi pH reaksi pengompleksan pada 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11 dan 12. Senyawa kompleks yang terbentuk diekstrak dengan kloroform. Karakterisasi kompleks ditunjukkan secara kualitatif dengan cara menganalisis spektra inframerah dan spektra ultraviolet. Uji kuantitatif ditempuh dengan menggunakan spektrometer serapan atom.( Nugraheni,2006)

Sebagian besar senyawa molekular logam transisi adalah senyawa kompleks dan senyawa organologam yang mengandung ligan yang berikatan kovalen koordinat dengan logam. Senyawa molekular ini tidak hanya meliputi senyawa kompleks mono-inti tetapi juga kompleks multi-inti yang mengandung beberapa logam, ataupun kompleks kluster yang mengandung ikatan logamlogam. Jumlah senyawa baru dengan berbagai variasi ikatan dan struktur meningkat dengan sangat cepat, dan bidang ini merupakan kajian yang utama dalam studi kimia anorganik saat ini (Sato, 1996)

Tembaga bekerja dengan pedoman transmetallating Grignard bahan reaksi untuk memberi suatu organocopper bahan reaksi. Organocoppers adalah lebih lembut dibanding Grignard bahan reaksi, dan tambahan [adalah] suatu menghubungkan pertunjukan kepada C=C yang lebih lembut obligasi;ikatan ganda. Sekali ketika organocopper telah menambahkan, garam-tembaga ada tersedia ke transmetallate beberapa lebih [] Grignard, dan hanya suatu jumlah katalitis diperlukan. Organocopper ditunjukkan di sini [sebagai/ketika/sebab] ‘ Me–Cu’ sebab [yang] tepat nya struktur tidaklah dikenal. Tetapi ada lain organocopper bahan reaksi yang juga mengalami menghubungkan penambahan dan itu adalah banyak [yang] dipahami lebih baik. hasil Yang paling sederhana dari reaksi dua orang padanan organolithium dengan [satu/ orang] padanan suatu tembaga ( I) menggarami seperti Cubr di (dalam) eter atau THF bahan pelarut pada temperatur rendah. Litium cuprates ( R2Culi) itu dibentuk tidaklah stabil dan harus digunakan dengan seketika (Clayden, 2001)

Garam kompleks berbeda dengan garam rangkap. Garam rangkap dibentuk apabila dua garam mengkristal bersama-sama dalam perbandingan molekul tertentu. Garam-garam ini memiliki struktur sendiri dengan tidak harus sama dengan struktur garam komponennya. Dua contoh garam rangkap yang sering dijumpai dalam garam alumina, KaI(SO4)12H2O dan ferroammonium sulfat, Fe(NH3)SO46H2O.garam rangkap dalam larutan akan terionisasi menjadi ion-ion komponennya (Arifin, 2010)

Pada dasarnya, stokiometri reaksi dalam larutan sama dengan stoikiometri pada umumnya, yaitu bahwa perbandingan mol zat-zat yang terlibat dalam reaksi sama dengan koefisien reaksinya. Hitungan stoikiometri reaksi dapat digolongkan sebagai stoikiometri sederhana, stoikiometri dengan pereaksi pembatas, dan
stoikiometri yang melibatkan campuran. Hitungan stoikiometri dengan salah satu zat dalam reaksi diketahui atau dapat ditentukan jumlah molnya, digolongkan sebagai stoikiometri sederhana. Penyelesaiannya dilakukan menurut langkah-langkah sebagai berikut :
(1) Menuliskan persamaan setara.
(2) Menentukan jumlah mol zat yang diketahui (yang dapat ditentukan
jumlah molnya)
Garam 1 + Asam 1 Garam2 +Asam2
Garam 1 + Basa 1 Garam 2 +Basa 2
Garam 1 + Garam 2 Garam3 + Garam 4
(3) Menentukan jumlah mol zat yang ditanyakan dengan
menggunakan perbandingan koefisien.
(4) Menyesuaikan jawaban dengan hal yang ditanyakan.
Hitungan Stoikiometrri dengan Pereaksi Pembatas
Jika zat-zat yang direaksikan tidak ekivalen, maka salah satu dari zat itu
akan habis lebih dahulu yang disebut pereaksi pembatas. Banyaknya hasil reaksi
akan bergantung pada jumlah mol pereaksi pembatas. Oleh karena itu, langkah
penting dalam menyelesaikan hitungan seperti ini adalah menentukan pereaksi
pembatas.
Hitungan Stoikiometri yang Melibatkan Campuran
Jika suatu campuran direaksikan, maka masing-masing komponen
mempunyai persamaan reaksi sendiri. Pada umumnya hitungan yang melibatkan
campuran diselesaikan dengan pemisalan. Langkah-langkah yang dapat ditempuh
adalah sebagai berikut :
(1) Menuliskan persamaan setara.
(2) Memisalkan salah satu komponen dengan x, maka komponen
lainnya sama dengan selisihnya.
(3) Menentukan jumlah mol masing-masing komponen.
(4) Menentukan jumlah mol zat lain yang diketahui.
(5) Membuat persamaan untuk menentukan nilai x.
(6) Menyesuaikan jawaban dengan pertanyaan.( Khofifatunnikmah,2007)



III. Metode Praktikum
A. Alat dan bahan yang digunakan
Alat alat yang digunakan pada praktikum ini adalah
a) 1 buah buret 50 ml dan mikro buret 5 ml
b) Corong pisah 250 ml
c) Erlenmeyer
d) Pipet gondok 10 ml dan 25 ml
e) Gelas piala
f) Statif dan klem
Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah
a) Larutan standar asam oksalat
b) Larutan ammonia 1 M
c) Larutan Cu2+
d) Larutan HCl 0,005 M
e) Larutan NaOH 0,1 M
f) Kloroform
g) Indikator PP
h) Indikator metil orange




B. Perhitungan
1. Standarisasi Beberapa Larutan
1. Larutan NaOH
Volume H2C2O4 yang terpakai = 10 mL
[H2C2O4] = 0,1 M
Volume NaOH yang terpakai = 8,5 mL
[NaOH] baku = 0,12 M
2. Larutan HCl
Voleme NaOH yang terpakai = 12 mL
[NaOH] baku = 0,12 M
Volume HCl yang terpakai = 10 mL
[HCl] baku (awal) = 0,144 M
3. Larutan NH3
Voleme HCl yang terpakai = 4,3 mL
[HCl] = 0,144 M
Volume NH3 yang terpakai = 10 mL
[NH3] baku = 0,062 M
2. Penentuan Koefisien Distribusi Ammonia Dalam Air dan Kloroform
Volume HCl yang terpakai = 0,3 mL
[HCl] baku = 0,144 M
Volume NH3 dalam CHCl3 terpakai = 25 mL
[NH3] kloroform = (0,144 – 0,055) M = 0,089 M
[NH3] air = [NH3] awal - [NH3] kloroform
[NH3] air = (0,062 – 0,089)M = 0,026 M
Kd = [NH3] kloroform/[NH3] air = 0,089 M/ 0,026 M = 3,42

3. Penentuan Rumus Kompleks Cu2+ ammin
Volume HCl yang terpakai = 0,3 mL
[HCl] baku = 0,144 M
Voleme NH3 dalam CHCl3 terpakai = 25 mL
[NH3] kloroform = 0,089 M
[NH3] air bebas = (0,144 – 0,089) M = 0,055 M
[Cu – NH3] = (0,062– 0,055) M = 0,007
Mol Cu : mol [Cu – NH3] = [NH3] awal-[NH3] klroform + mol [NH3] air bebas
Mol Cu : mol [Cu – NH3] = 0,062 M – 0,089 M + 0,055 M
Mol Cu/ mol [Cu – NH3] = 0, 028
Mol Cu = 0,028/0,007 = 4
Rumus Kompleks adalah = [Cu(NH3)4]2+


C. Pembahasan
Pada dasarnya stoikiometri kompleks ammin – Tembaga (II) menggunakan prinsip proses ekstraksi pelarut, dimana dalam prinsip ini berlaku hukum distribusi yang menyatakan apabila suatu system yang terdiri dari dua lapisan campuran (solvent) yang tidak saling bercampur satu sama lain, ditambahkan senyawa ketiga (zat terlarut), maka senyawa itu akan terdistribusi (terpartisi) kedalam dua lapisan tersebut, dengan syarat Nerst bila zat terlarut nya tidak menghasilkan perubahan pada kedua pelarut (solvent) atau zat yang terlarut yang terbagi (terpartisi) dalam dua pelarut tidak mengalami asosiasi, disosiasi atau reaksi dengan pelarut.
Pada percobaan ini, akan ditentukan rumus senyawa ammin-tembaga (II). Ada beberapa tahap untuk penentuan rumus senyawa kompleks ammin-tembaga (II) tersebut. Yang pertama yakni Penentuan koefisien distribusi ammonia antara air dan kloroform dan Penentuan Rumus Kompleks Cu-Ammin. Sebelum itu, yang pertama dilakukan yakni menstandarisasi larutan NaOH, HCl, dan NH3. Pada Standarisasi larutan, standarisasi NaOH dengan asam oksalat, volume asam oksalat yang digunakan yakni 10 ml dengan konsentrasi 0,1 M. Sedangkan NaOH yang dibutuhkan yakni 8,5 ml dan menghasilkan konsentrasi 0,12 M. Untuk standarisasi larutan HCl dengan NaOH, NaOH yang dibutuhkan yakni 12 ml dengan konsentrasi 0,12, sedangkan Volume HCl yang dibutuhkan yakni 10 ml dan menghasilkan konsentrasi HCl 0,144 M. Untuk standarisasi larutan NH¬3, HCl yang terpakai yakni 4,3 ml dengan konsentrasi 0,144. Sedangkan volume NH3 yang dipakai yakni 10 ml dan menghasilkan konsentrasi sebesar 0,062.
Pada Penentuan Penentuan koefisien distribusi ammonia antara air dan kloroform, volume HCl yang digunakan adalah sebesar 0,3 ml dengan konsentrasi 0,144 hasil standarisasi. Sedangkan Volume NH3 dalam CHCl3 yang terpakai yakni sekitar25 ml. Untuk konsentrasi NH3 dalam kloroform, didapatkan sebesar 0,089. Untuk menentukan konsentrasi NH3 dalam air, maka konsentrasi NH3 awal dikurangkan dengan NH3 dalam kloroform dan didapatkan yakni sebesar 0,026 M. Dengan mendapatkan semua hasil konsentrasi tersebut, maka akan didapatkan dengan cara memperbandingkan konsentrasi NH3 dalam kloroform dengan NH3 dalam air. Setelah diperbandingkan , maka didapatkan koefisien distribusinya yakni sebesar 3,42
Pada perlakuan yang selanjutnya yakni Penentuan Rumus Kompleks Cu-Ammin, Volume HCl yang dibutuhkan yakni 0,3 ml dengan konsentrasi 0,144 hasil titrasi. Sedangkan volume NH3 dalam CHCl3 yang terpakai adalah 25 ml. Setelah titrasi maka didapatkan konsentrasi NH3 dalam kloroform yaitu 0,089 M. Untuk menentukan konsentrasi NH3 dalam air bebas, yakni dengan mengurangkan konsentrasi HCl hasil titrasi dengan konsentrasi NH3 dalam kloroform. Dan didapatkan konsentrasinya sebesar 0,055 M. Untuk konsentrasi Cu-NH3 didapatkan yakni sebesar 0,007 M. Dengan adanya data-data tersebut yang didapatkan maka dapat ditentukan rumus molekul dari ammin – tembaga (II) yakni [Cu(NH3)4]2+.

V. Simpulan
Pada percoban ini yakni menentukan rumus ion kompleks dari ammin-tembaga (II), dimana didapatkan koefisien distribusinya sebesar 3,42 dan rumus ion kompleks yang didapatkan yakni [Cu(NH3)4]2+ ..

Daftar Pustaka
Arifin. 2010. Penuntun kimia Anorganik II. Laboratorium Pengembangan Unit Kimia Universitas Haluoleo. Kendari
Clayden. 2001. Organic Chemistry. McGraw-Hill. Sydney.
Khofifatunnikmah,2007. Peningkatan Hasil Belajar Kimia Pokok Bahasan Stoikiometri larutan Pada Siswa Kelas XI Semester II SMA Walisongo Semarang malalui Permainan Kimia Berwawasan CET.Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Semarang
Nugraheni,F.D. 2006. Pengaruh pH terhadap Pembentukan Senyawa Kompleks tembaga(II)Guanin. Jurusan Kimia fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Semarang
Pisesidharta .E, Zulfikar, Kuswandi B .2008 . Preparasi membran Nata de Coco etilendiammin dan Studi Karakteristik Pengikatnya terhadap Ion Cu 2+.Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Jember
Sato.T. 1996. Anorganik. Iwanami Publishing Company.Tokyo
Speight J.G. 2006.The Chemistry and Technology of Petroleum Fourth Edition. Taylor & Francis Group, LLC.



Rabu, 02 Maret 2011

Stoikiometri Reaksi Logam Dengan Garam

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK


PERCOBAAN 4


Stoikiometri Reaksi Logam Dengan Garam


NAMA : RADEN ALIP RAHARJO


STAMBUK : A1C4 08 027


KELOMPOK :




LABORATORIUM PENGEMBANGAN UNIT KIMIA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


UNIVERSITAS HALUOLEO


KENDARI


2010

I. Tujuan dan Prinsip Percobaan
A. Tujuan Praktikum

Tujuan percobaan kali ini adalah mempelajari stoikiometri reaksi antara logam tembaga dengan larutan besi (III) dengan meramalkan komposisi Ion tembaga yang dihasilkan.

B. Prinsip Percobaan

Prinsip percobaan kali ini adalah mempelajari stoikiometri reaksi antara logam tembaga dengan larutan besi (III) dengan meramalkan komposisi Ion tembaga yang dihasilkan berdasarkan harga perbandingan jumlah mol antara ion Fe3+ yang bereaksi dengan logam tembaga yang terpakai.

II. Teori

Hemoglobin memiliki struktur besi heme dan empat satuan porfirin yang berkombinasi dengan protein globin. Dioksigen yang ditransport dalam darah dikoordinasikan pada ion Fe(II) dalam satuan heme tersebut. Ion Fe (II) dalam keadaan penta-koordinat dengan empat atom nitrogen porfirin dan atom nitrogen histidin polipeptida, dan menjadi heksa-koordinat ketika dioksigen berkoordinasi dengan ion tersebut. Keadaan spin besi akan berubah dari spin tinggi ke rendah dengan berkoordinasinya oksigen. Fe(II) spin tinggi akan ada di atas bidang porfirin karena ion ini terlalu besar untuk dapat masuk ke dalam ruang yang tersedia. Ketika ion Fe(II) menjadi spin rendah dengan koordinasi oksigen, ukuran ini akan menurun dan kini dapat masuk dalam ruang cincin porfirin.Pergerakan tingkat molekular ini telah menarik minat riset efek alosterik karena pergerakan ini akan mempengaruhi keseluruhan protein melalui histidin yang terkoordinasi dan menentukan ikatan tertentu dalam molekul dioksigen. Oksidasi ion Fe(II) dalam molekul heme dicegah oleh protein, dan hila besi heme diambil dari protein, ion Fe(II) akan dioksidasi menjadi Fe(III), dan dua cincin porfirin dijembatani oleh peroksida μ-O2- 2, yang akhirnya menjadi struktur μ-O2 (Sato, 1996)

Unsur besi (Fe) dalam suatu sistem Periodik Unsur (SPU) termasuk ke dalam golongan VIII. Besi dapat dibuat dari biji besi dalam tungku pemanas. Biji besi biasanya mengandung Fe2O3 yang dikotori oleh pasir (SiO2) sekitar 10%, serta sedikit senyawa sulfur, fosfor, aluminium, dan mangan. Besi dapat pula dimagnetkanEndapan pasir besi, dapat memiliki mineral-mineral magnetik seperti magnetik (Fe3O4), hematit (α- Fe2O3), dan maghemit (γ- Fe2O3). Mineral-mineral tersebut mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai bahan industri. Magnetit, misalnya, dapat digunakan sebagai bahan dasar untuk tinta kering (toner) pada mesin photo-copy dan printer laser, sementara maghemit adalah bahan utama untuk pita-kaset Ion besi (II) dapat mudah dioksidasikan menjadi Fe (III), maka merupakan zat pereduksi yang kuat. Semakin kurang asam larutan itu, semakin nyatalah efek ini; dalam suasana netral atau basa bahkan oksigen dari atmosfer akan mengoksidasikan ion besi (II). Garam-garam besi (III) atau feri diturunkan dari oksida besi (III), Fe2O3. Mereka lebih stabil daripada garam besi (II). Dalam larutannya, terdapat kation-kation Fe3+ yang berwarna kuning muda; jika larutan mengandung klorida, warna menjadi semakin kuat. Zat-zat pereduksi mengubah ion besi (III) menjadi besi (II). Ion ferro [Fe(H2O)6]2+ memberikan garam berkristal Besi yang sangat halus bersifat pirofor. Logamnya mudah larut dalam asam mineral. Dengan asam bukan pengoksidasi tanpa udara, diperoleh FeII. Dengan adanya udara atau bila digunakan HNO3 encer panas, sejumlah besi menjadi Fe (III). Asam klorida encer atau pekat dan asam sulfat encer melarutkan besi, pada mana dihasilkan garam-garam besi (II) dan gas hydrogen. Besi murni cukup reaktif. Dalam udara lembap cepat teroksidasi memberikan besi (III) oksida hidrat (karat) yang tidak sanggup melindungi, karena zat ini hancur dan membiarkan permukaan logam yang baru terbuka (www.google.com/garam-mohr-nh426h2o.html)

Dalam proses reaksinya, terjadi perubahan warna pada larutan logam. Perubahan warna tersebut dimungkinkan berasal dari proses kompleksasi Cu(II) dari fasa cair dengan etilendiamin yang berada pada fasa padatan membran. Warna yang dihasilkan mendekati warna kompleks Cu(II)-etilendiamin 1:1. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa sistem larutan tersebut mengandung campuran kompleks Cu(II)-etilendiamin 1:1 dengan ion Cu(II) bebas. Hal ini ditunjukkan oleh adanya pergeseran puncak absorbsi dari masing-masing larutan tersebut (gambar 9-11). Berdasarkan hasil tersebut, selain pergeseran panjang gelombang juga terjadi kenaikan intensitas absorbansi pada larutan hasil reaksi. Kenaikan tersebut muncul akibat adanya spesies kompleks Cu(en)2+ didalam larutan yang terbentuk pada saat proses reaksi antara Cu (II) dengan membran nata-en. Adanya campuran ion Cu(II) bebas dan kompleks Cu(en)2+ dalam fasa larutan berkaitan dengan proses pelepasan etilendiamin ke sistem larutan serta berhubungan dengan proses kesempurnaan reaksi antara Cu(II) dengan etilendiamin. Dalam hal ini, reaksi tersebut berlangsung pada kondisi dimana jumlah molekul Cu(II) jauh lebih banyak dibandingkan jumlah molekul etilendiamin. Dapat dinyatakan bahwa Cu(II) merupakan pereaksi pembatas dalam proses reaksi tersebut (Kuswandi, 2008)

Stoikiometri merupakan salah satu cabang ilmu kimia yang mempelajari berbagai aspek yang menyangkut kesetaraan massa antar zat yang etrlibat dalam reaksi kimia, baik dalam skala molekular maupun skala eksperimental. Pengetahuan tentang kesetaraan massa zat antara zat yang bereaksi merupakan dasar penyelesaian hitungan yang melibatkan reaksi kimia. Konsep mol diperlukan untuk mengkonversi kesetaraan massa antar zat dari skala molekular ke dalam skala eksperimental dalam laboratorium (Arifin, 2010)

Pada dasarnya, stikiometri reaksi dalam larutan sama dengan stoikiometri pada umumnya, yaitu bahwa perbandingan mol zat-zat yang terlibat dalam reaksi sama dengan koefisien reaksinya. Hitungan stoikiometri reaksi dapat digolongkan sebagai stoikiometri sederhana, stoikiometri dengan pereaksi pembatas, dan stoikiometri yang melibatkan campuran.Hitungan stoikiometri dengan salah satu zat dalam reaksi diketahui atau dapat ditentukan jumlah molnya, digolongkan sebagai stoikiometri sederhana.
Penyelesaiannya dilakukan menurut langkah-langkah sebagai berikut :

(1) Menuliskan persamaan setara.
(2) Menentukan jumlah mol zat yang diketahui (yang dapat ditentukan
jumlah molnya)
Garam 1 + Asam 1 Garam2 +Asam2
Garam 1 + Basa 1 Garam 2 +Basa 2
Garam 1 + Garam 2 Garam3 + Garam 4
(3) Menentukan jumlah mol zat yang ditanyakan dengan
menggunakan perbandingan koefisien.
(4) Menyesuaikan jawaban dengan hal yang ditanyakan.

Hitungan Stoikiometrri dengan Pereaksi Pembatas Jika zat-zat yang direaksikan tidak ekivalen, maka salah satu dari zat itu akan habis lebih dahulu yang disebut pereaksi pembatas. Banyaknya hasil reaksi akan bergantung pada jumlah mol pereaksi pembatas. Oleh karena itu, langkah penting dalam menyelesaikan hitungan seperti ini adalah menentukan pereaksi pembatas. Hitungan Stoikiometri yang Melibatkan Campuran
Jika suatu campuran direaksikan, maka masing-masing komponen mempunyai persamaan reaksi sendiri. Pada umumnya hitungan yang melibatkan campuran diselesaikan dengan pemisalan. Langkah-langkah yang dapat ditempuh adalah sebagai berikut :

(1) Menuliskan persamaan setara.
(2) Memisalkan salah satu komponen dengan x, maka komponen
lainnya sama dengan selisihnya.
(3) Menentukan jumlah mol masing-masing komponen.
(4) Menentukan jumlah mol zat lain yang diketahui.
(5) Membuat persamaan untuk menentukan nilai x.
(6) Menyesuaikan jawaban dengan pertanyaan.( Khofifatunnikmah,2007)

kuasa cupric Yang yang mengoksidasi ( Cu2þ) garam adalah juga digunakan untuk mengkonversi mercaptans secara langsung ke dalam disulfides; bebaskan belerang tidaklah dipekerjakan, dan polysulfides tidaklah diperoleh. Proses mempekerjakan kupri-khlorid di hadapan solusi garam kuat, yang (mana) biasanya disusun oleh penghancuran tembaga sulfate di (dalam) suatu larutan mengandung air klorid sodium


Kupro-Khlorid [itu] ( Cucl) adalah dapat larut di (dalam) solusi garam, dan di sana adalah tidak (ada) hujan/timbulnya. Di bawah kondisi-kondisi operasi, suatu jumlah tertentu tembaga ditahan oleh minyak tanah yang dipermanis pecahan, [yang] mungkin [sebagai/ketika] cuprous mercaptides atau chloride-olefin penambahan produk cuprous, tetapi ini dapat dipindahkan dengan cucian material dengan sulfida sodium mengandung air. Udara memukul/ bertiup kupro-khlorid solusi, setelah atau sepanjang penggulaan; pemanis operasi, memperbaharui cupric klorid. tembaga khlorida [CuCI] Solusi mungkin (adalah) dipekerjakan sedemikian, atau pecahan yang asam mungkin yang disaring melalui suatu massa menyerap dipenuhi dengan agen yang yang [perlakukan/ traktir] [itu]. [Yang] sebagai alternatif, bensin mungkin (adalah) bergaul dengan suatu pengangkut padat untuk bahan reaksi,membubarkan sebagai slurry (Speight, 2006)

III. Metode Praktikum
A. Alat dan bahan yang digunakan
Alat alat yang digunakan pada praktikum ini adalah
a) 1 buah gelas beker 250 ml
b) 1 buah gelas arloji untuk tutup
c) 1 buah botol timbangan 10 ml
d) 1 buah labu ukur 100 ml
e) 1 buah pipet gondok 25 ml
f) 1 buah buret 50 ml
g) 3 buah erlenmeyer 100 ml
h) pemanas
Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah
a) Serbuk tembaga 0,63 gram
b) Larutan Fe(NH4)(SO4)
c) H2SO4
d) Asam oksalat



IV. Hasil Pengamatan
A. Reaksi Lengkap
Reaksi yang terjadi dalam praktikum ini yaitu:

1. Saat standarisasi Larutan KMnO4


2. Reaksi antara Fe(III) dengan KMnO4

. Perhitungan
1. Standarisasi KMnO4
Berat (COOH)2.2H2O = 0,63 gram
BM (COOH)2.2H2O = 126 gram/mol
Mol (COOH)2.2H2O = 0,005 mol = 5 x 10-3 mol
Volume (COOH)2.2H2O = 5 mL = 5 x 10-3 L
Konsentrasi (COOH)2.2H2O = 1 M
Volume KMnO4 =1,8 mL = 1,8 x 10-3 L
[KMnO4 ]baku = 0,4
Pers. Reaksi:

5 mol C2O42- ≈ 2 mol MnO4-


Mol KMnO4- =
= x 0,005 mol = 2 x 10-3 mol

2. Stoikiometri reaksi logam Cu dengan garam Fe (III)
Berat gelas Piala kecil = 34,38 gram
Berat gelas piala + serbuk Cu = 34,58 gram
Berat serbuk Cu = 0,2 gram
Volume Fe (III) 0,2 M = 30 ml
Volume H2SO4 = 15 ml
Hasil Titrasi :
Volume Fe (III) 0,2 M = 25 ml
Volume KMnO4 = 1 ml
[ Fe (II) ] = 0,08 M
Perbandingan mol (r) = 0.6
Reaksi yang dominan = Cu + Fe3+ Fe2+ + Cu+
[Cu+]/[Cu2+] = 0,5
Pers. Reaksi:

Mol KMnO4 = Volume KMnO4 x [KMnO4]baku
= (0,001 L) . 0,4 M
= 0,0004 mol
Mol Fe3+ = 5 x mol MnO4-
= 5 . (0,0004 mol)
= 0,002 mol
Mol Cu =
Perbandingan jumlah mol (r):
r = =

[ Fe2+] = 0,002 mol/0,025 L = 0,08 M



C. Pembahasan
Dalam suatu pereaksian kimia seperti yang dilakukan pada percobaan ini, pengetahuan mengenai kesetaraan massa antar zat yang bereaksi merupakan dasar penyelesaian hitungan yang melibatkan reaksi kimia. Konsep mol diperlukan untuk mengkonversikan kesetaraan massa antara zat dari skala molekuler ke dalam skala eksperimental dalam laboratorium. Dalam percobaan ini ditentukan perbandingan konsentrasi Cu+ dengan Cu2+ melaui stoikiometri reaksi logam Cu dengan garam dari besi (III). Tembaga yang dilarutkan dengan H2SO4 akan membentuk dua kemungkinan reaksi yakni mengion menjadi tembaga monovalen Cu+ dan mengion menjadi tembaga bivalen Cu2+ . sedangkan besi (III) dari garamnya, akan mengion dan menjadi besi (II). Reaksi yang terjadi adalah reaksi reduksi-oksidasi, yaitu:

Cu  Cu+ + e- = -0,52 volt
Fe3+ + e  Fe2+ = 0,77 volt
Cu+Fe3+  Cu+ + Fe2+ = 0,25 volt (reaksi I)
Cu  Cu2+ + 2 e- = -0,34 volt
2Fe3+ + 2 e  2Fe2+ = 0,77 volt
Cu + 2Fe3+  Cu+ + 2Fe2+ sel = 0,43 volt(reaksi II)

Untuk menentukan komposisi ion tembaga yang dihasilkan maka setelah tembaga Cu direaksikan dengan larutan garam besi(III), larutan tembaga yang dihasilkan diencerkan dan dipipet beberapa mL untuk dilakukan titrasi dengan menggunakan larutan KMnO4, dan larutan KMnO4 ini distandarisasi terlebih dahulu sehingga diketahui konsentrasinya dengan pasti sebab larutan KMnO4 mudah teroksidasi oleh udara dan mengalami degradasi sehingga jika disimpan dalam waktu yang lama maka konsentrasinya akan berkurang . Titrasi ini dilakukan untuk menentukan mol Cu awal dan mol Fe2+ hasil, sehingga dengan mengetahui mol Cu awal dan Fe2+ hasil dapat ditentukan nilai perbandingannya. Mol Cu awal dan mol Fe2+ yang dihasilkan dapat dihitung melalui reaksinya secara stoikiometri atau kesetaraannya dengan KMnO4 yang direaksikan melalui titrasi. Mol Fe2+ dapat diketahui jika volume KMnO4 yang digunakan diketahui dengan pasti. Cara perhitungannya adalah :
mol Fe2+ hasil =
mol Fe2+ yang didapatkan yakni 0,08 M dimana 5/1 merupakan perbandingan koefisien mol Fe2+ dengan mol KMnO4, yang diperoleh dari reaksi :
MnO4- + 8H+ + 5e-  Mn2+ + 4H2O
5Fe2+  5Fe3+ + 5e-
MnO4- + 8H+ + 5e-  Mn2+ + 4H2O + 5Fe3+ (Reaksi III)

Dengan mengetahui nilai rasio ini maka kita dapat mengetahui kemungkinan reaksi yang terjadi dari dua kemungkinan reaksi yang terjadi, selain itu nilai rasio ini menunjukkan nilai perbandingan [Cu+/Cu2+]Nilai rasio yang didapatkan yakni 0,6.. Rasio ini merupakan perbandingan mol Fe2+ yang bereaksi dengan mol logam tembaga awal. Nilai rasio berkisar antara 1 sampai 2. Apabila nilai rasio = 1 maka reaksi yang terjadi hanya reaksi (1), dan jika nilai rasio = 2 maka reaksi yang terjadi hanya reaksi 2. Reaksi yang dimaksudkan adalah Cu + Fe3+  Fe2+ + Cu+ (reaksi 1) dan Cu + 2Fe3+  Fe2+ + C2+ (Reaksi 2). Perbandingan konsentrasi Cu+ dengan Cu2+ didapatkan yakni 0,5 .

V. Simpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa untuk mencari perbandingan konsentrasi Cu+ dengan Cu2+ dengan menggunakan rumus [Cu+]/[Cu2+] = dimana r = , dimana Nilai r yang didapatkan yakni 0,6 dan Perbandingan [Cu+]/[Cu2+] yang didapatkan yakni 0,5



Daftar Pustaka
Arifin. 2010. Penuntun kimia Anorganik II. Laboratorium Pengembangan Unit Kimia Universitas Haluoleo. Kendari

Khofifatunnikmah,2007. Peningkatan Hasil Belajar Kimia Pokok Bahasan Stoikiometri larutan Pada Siswa Kelas XI Semester II SMA Walisongo Semarang malalui Permainan Kimia Berwawasan CET.Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Semarang

Pisesidharta .E, Zulfikar, Kuswandi B .2008 . Preparasi membran Nata de Coco etilendiammin dan Studi Karakteristik Pengikatnya terhadap Ion Cu 2+.Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Jember.

Sato.T. 1996. Anorganik. Iwanami Publishing Company.Tokyo
Speight J.G. 2006.The Chemistry and Technology of Petroleum Fourth Edition. Taylor & Francis Group, LLC.
Syabatini. A. 2009. www.google.com/garam-mohr-nh426h2o.html). [Akses 28 5 2010 ]




Selasa, 22 Februari 2011

PEMURNIAN BAHAN MELALUI REKRISTALISASI

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK

PERCOBAAN 3

PEMURNIAN BAHAN MELALUI REKRISTALISASI


NAMA : RADEN ALIP RAHARJO

STAMBUK : A1C4 08 027

LABORATORIUM PENGEMBANGAN UNIT KIMIA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS HALUOLEO

KENDARI

2010
PEMURNIAN BAHAN MELALUI REKRISTALISASI

I. Tujuan dan Prinsip Percobaan
A. Tujuan Praktikum
Percobaan ini dimaksudkan untuk mempelajari salah satu metode pemurnian yaitu rekristalisasi dan penerapannya dalam pemurnian garam dapur pasar.

B. Prinsip Percobaan
Prinsip percobaan ini didasarkan pada perbedaan daya larut antara zat yang dimurnikan dengan pengotornya dalam suatu pelarut tertentu.

II. Teori
Sebagai metoda pemurnian padatan, rekristalisasi memiliki sejarah yang panjang seperti distilasi.Walaupun beberapa metoda yang lebih rumit telah dikenalkan, rekristalisasi adalah metoda yangpaling penting untuk pemurnian sebab kemudahannya (tidak perlu alat khusus) dan karenakeefektifannya. Ke depannya rekristalisasi akan tetap metoda standar untuk memurnikan padatan. Metoda ini sederhana, material padayan ini terlarut dalam pelarut yang cocok pada suhu tinggi (pada atau dekat titik didih pelarutnya) untuk mendapatkan larutan jenuh atau dekat jenuh. Ketika larutan panas pelahan didinginkan, kristal akan mengendap karena kelarutan padatan biasanya menurun bila suhu diturunkan. Diharapkan bahwa pengotor tidak akan mengkristal karenakonsentrasinya dalam larutan tidak terlalu tinggi untuk mencapai jenuh (Salim, www.google// rekristalisasi/agus_salim.htm).

Rekristalisasi adalah suatu metode yang digunakan untuk memurnikan padatan yang didasarkan pada perbedaan daya larut antara zat yang dimurnikan dengan kotoran dalam suatu pelarut tertentu. Pada dasarnya zat akan dimurnikan dilarutkan dalam suatu pelarut kemudian dipanaskan dan diuapkan kembali. Bahkan pengotor yang tidak dapat dilarutkan dapat dipisahkan dari larutan dengan cara penyaringan sedangkan bahan pengotor yang mudah larut akan berada dalam larutan. Pemurnian padatan dengan kristalisasi didasarkan pada perbedaan kelarutan zat yang akan dimurnikan dengan pelarut tertentu (Lindawati, 2006).

Dikeringkan sejumlah sampel garam dapur dalam oven, kemudian ditimbang 50 gram garam dapur tersebut. Dipanaskan 500 mL aquades dalam beaker glass sampai mendidih, kemudian dimasukkan 50 gram garam dapur krosok ke dalam air panas sambil diaduk dan dipanaskan lagi sampai mendidih lalu disaring. Ditambahkan 5 gram CaO kedalam larutan yang berfungsi untuk mengendapkan ion Fe3+ menjadi Fe(OH)3, kemudian ditambahkan Ba(OH)2 encer tetes demi tetes sampai tetes terakhir tidak membentuk endapan lagi yang berfungsi untuk mengendapkan ion sulfat menjadi BaSO4. ditambahkan 10 mL Larutan (NH4)2 CO3 tetes demi tetes, yang berfungsi untuk mengendapkan ion Ca2+ dan ion Mg2+ dengan membentuk CaCO3 dan MgCO3. Larutan dibiarkan beberapa menit, kemudian larutan disaring dan filtratnya di netralkan dengan HCl encer (diuji dengan kertas indikator universal). Larutan diuapkan sampai kering. Di timbang kristal yang diperoleh dan dihitung kadar NaClnya (Lindawati, 2006). 

Bahan pengikat adalah bahan yang membuat sesuatu menjadi terikat. Sedangkan impurities adalah zat-zat yang keberadaannya tidak di kehendaki dalam zat murni. Air laut sebagai sumber bahan baku pembuatan garam selain mengandung NaCl juga mengandung garam-garam terlarut lainnya sebagai impurities (pengotor). Pengotor ini biasanya berasal dari ion-ion Ca2+, SO42-, Fe3+, Mg2+, dan lain-lain. Impurities dari unsur kalsium biasanya dalam bentuk gips. Kristal gips sangat halus dan mengedap sangat lambat sehingga pada masa pembentukan kristal NaCl gips ikut terkristal. Hal ini menjadi penyebab garam yang diperoleh dari penguapan air laut dengan tenaga matahari kemurniannya lebih rendah dibandingkan dengan penguapan buatan (Lindawati, 2006).

Pengaruh penambahan natrium karbonat dan PAC dalam larutan garam telah diinvestigasi. Proses pemurnian ini dilakukan dengan proses pengendapan impuritas yang terkandung dalam larutan garam. Sedangkan analisanya dilakukan dengan metode titrasi. Hasil menunjukkan bahwa dengan penambahan natrium karbonat 3 ml dapat diperoleh kadar ion Ca2+ paling rendah. Penambahan PAC tidak memberikan pengaruh yang cukup berarti dalam penghilangan ion kalsium dalam larutan garam. Dalam proses analisa sebaiknya digunakan buret dengan ketelitisn tinggi agar penentuan TAT lebih akurat sehingga diperoleh kadar ion kalsium yang tersisa dalam larutan garam sesuai dengan kadar yang sebenarnya (Lesdantina, 2009).

Lithium dan natrium dapat diperoleh dengan elektrolisis garam leburan atau eutetik bertitik leleh rendah seperti CaCl2 + NaCl. Karena titik lelehnya yang rendah dan mudah menguap, K, Rb, dan Cs tidak dapat dengan mudah dibuat denmgan elektrolisis , namun diperoleh dengan mengolah lelehan klorida dengan uap Na. Logam-logam dimurnikan dengan destilasi. Lithium, Na, K, dan Rb adalah keperakan tapi Cs berwarna kuning keemasan. Karena hanya terdapat satu elektron valensi tiap atom logam, energi ikatan dalam kemasan rapat kisi logam relatif lemah. Oleh karenanya logam-logam tersebut lunak dengan titik leleh yang rendah. Aliasi Na-K dengan 77,2% K mempunyai titik leleh -12,3 (Cotton, 1989).

Ion klorida akan selalu menjadi sisa-sisa yang terbaik dalam golongannya, bagaimanapun dibentuk, dan usaha untuk membuat suatu asam klorida dari suatu ester dengan Nacl dihukum. Klorida adalah suatu yang baik sisa-sisa kelompok dari C=O dan suatu nukleofilik tidak baik ke arah C=O. Eto– adalah suatu sisa-sisa tidak baik menggolongkan dari C=O dan suatu yang baik nukleofilik ke arah C=O. SN2 reaksi adalah berbeda sebab tidak sudahkah suatu . Oleh karena itu semua energi yang lebih rendah dari status transisi akan mempercepat kedua-duanya maju dan reaksi punggung. Kita harus mempertimbangkan dua hasil ini: tingkat tarik dari reaksi dan yang (mana) cara agar akan pergi (Clayden, 2001).

III. Metode Praktikum
A. Alat dan bahan yang digunakan
Alat alat yang digunakan pada praktikum ini adalah
a) 1 set timbangan
b) 1 buah gelas beker
c) 1 buah gelas ukur 50 ml
d) 1 buah labu takar 250 ml
e) 1 set pemanas listrik
f) 1 buah pengaduk gelas
g) 1 buah corong gelas
Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah
a) Kristal garam dapur pasaran 50 gram
b) Serbuk kapur(CaO) 1 gram
c) Larutan Ba(OH)2
d) Larutan (NH4)2CO3
e) Larutan HCl encer
f) Aquades
g) Asam sulfat pekat
h) Kertas lakmus



IV. Hasil Pengamatan
A. Reaksi Lengkap
NaCl(s) + H2O NaCl(aq) + Pengotor (kotoran)
NaCl(aq) + CaO(s) + H2O 2NaOH(aq) + CaCl2
(soda api) (endapan)
NaOH(aq) + CaCl2(s) + Ba(OH)2(aq) NaOH(aq) + [Ca(OH)2, BaCl2]
NaOH(aq) + HCl(aq) NaCl(aq) + H2O(l)
pH netral
NaCl(aq) NaCl(s)
(endapan garam dapur murni)



C. Pembahasan

Salah satu metode pemurnian suatu zat berbentuk krystal adalah kristalisasi. Metode ini berdasarkan pada perbedaan daya larut antara zat yang dimurnikan dengan kotoran dalam suatu pelarut tertentu. Pemurnian dengan metode ini banyak dilakukan pada industri atau laboratorium untuk menigkatkan kualitas suatu zat
Dalam pemurnian bahan melalui rekristalisasi, zat yang paling umum dimurnikan biasanya berupa garam – garam ionik, karena sifat garam ini mudah larut didalam pelarut air dan biasanya memberikan daya larut yang cukup besar terhadap pengotornya, dibanding garam kovalen yang lebih sukar larut dalam pelarut air dan memiliki perbedaan daya larut yang sangat kecil terhadap pengotornya. 

Pada percobaan kali ini yakni pemurnian bahan melalui rekristalisasi.(kristalisasi ulang). Percobaan ini bertujuan untuk memurnikan garam dapur pasaran yang dimana garam dapur tersebut dimurnikan dari pengotornya agar mendapatkan garam dapur yang lebih bersih dan murni.garam dapur atau NaCl merupakan salah satu contoh padatan ionik karena tersusun atas ion-ion berlawanan muatan yang saling tarik menarik. Senyawa penyusun NaCl sendiri memiliki sifat khasnya masing-masing dan sangat berbeda dengan senyawa yang disusunnya. Contohnya, unsur Na yang mudah meledak dalam air dan ternyata justru berlainan sifat dengan NaCl yang cenderung mudah larut dalam air dan terionisasi. Hal ini diakibatkan adanya pengaruh anion-anion yang diikat oleh Na dalam NaCl sehingga menyebabkan sifat asli dari Na hilang.

Pada percobaan ini ada beberapa metode yang digunakan dalam memurnikan kembali garam dapur pasaran. Yakni metode kristalisasi melalui penguapan dan metode kristalisasi melalui pengendapan.percobaan ini menggunakan metode kristalisasi penguapan. Untuk dalam kelancaran pemurnian rekristalisasi, yang perlu diperhatikan adalah pelarutnya yang digunakan untuk melarutkan zat yang dimurnikan agar terhindar dari pengotornya. Pelarut yang digunakan yakni pelarut yang memiliki syarat yakni, memberikan perbedaan daya larut yang cukup besar antara antara zat yang dimurnikan dan zat dengan zat pengotornya, Tidak meninggalkan zat pengotor pada Kristal, mudah dipisahkan dari Kristal, Bersifat inert (tidak mudah bereaksi dengan Kristal).

Pada percobaan ini,garam dapur yang digunakan merupakan garam dapur pasaran dan air sebagai pelarutnya. Pada perlakuan awal, pelarut yang digunakan (air) dipanaskan dalam gelas beker sampai mendidih. Hal ini dilakukan agar supaya kristal NaCl mudah atau lebih cepat larut dalam pelarutnya serta karena titik lebur yang dimiliki oleh garam NaCl sendiri melebihi titih didih yang dimiliki air sendiri, sehingga diperlukan energi yang cukup besar untuk memecahkan partikel garam tersebut untuk menjadi ion ionnya.Garam dapur yang dibutuhkan untuk dimurnikan yakni sebanyak 30 gram dan dilarutkan ke dalam 250 ml air yang telah dipanaskan dan kemudian diaduk. Pada perlakuan ini terlihat bahwa garam dapur (NaCl) telah larut dan tidak dapat lagi dibedakan dengan pelarutnya.Terkecuali dengan pengotornya,pengotor dari garam dapur tersebut dapat terlihat atau dibedakan dengan larutan NaCl tersebut dimana pengotornya tersebut ada yang berada diatas permukaan dan ada yang berada didasar.Pengotornya tersebut biasanya merupakan ion-ion +, Mg2+, Al3+, SO42-, I- dan Br.Setelah semua telah larut, kemudian larutan garam dapur tersebut disaring dengan kertas saring melalui corong dan dimasukkan ke dalam 2 buah gelas kimia dan larutannya dibagi rata.Hal ini dilakukan agar pengotornya tersebut tertahan pada penyaring agar tidak terikut oleh larutan garamnya.

Pada proses berikutnya yakni proses inti dari sebuah rekristalisasi suatu zat dan digunakan metode penguapan. Setengah dari larutan tersebut kemudian ditambahkan dengan CaO(serbuk kapur) sebanyak 1 gram.Kemudian dari campuran larutan tersebut,ditambahkan larutan Ba(OH)2 encer perlahan-lahan atau tetes demi tetes hingga tidak ada lagi endapan yang terbentuk dari penambahan CaO.Kemudian ,setelah tidak terbentuk lagi endapan maka larutan tersebut kemudian ditambahkan dengan larutan (NH4)CO3 tetes demi tetes. Penambahan – penambahan dari bahan – bahan tersebut dimaksudkan karena CaO yang berfungsi memutihkan garam yang dihasilkan nantinya karena dapat mengikat pengotor berupa Ca2+. Selanjutnya dengan penambahan Ba(OH)2 juga memiliki fungsi yang sama dengan CaO, tetapi khusus mengikat pengotor berupa ion Mg2+ atau Al3+. Terakhir dilakukan dengan penambahan pelarut (NH4)2CO3 yang berguna untuk mengikat sisa-sisa zat pengotor yang mungkin masih ada dalam larutan garam tetapi tidak bisa terikat oleh 2 pelarut sebelumnya. Zat-zat pengotor itu mungkin berada dalam bentuk ion SO42-, I-, Br, dll. Dengan adanya penambahan 3 pelarut tadi, maka dapat disumsikan bahwa larutan garam sudah murni dan tidak mengandung zat pengotor lagi. Zat-zat pengotor tersebut terikat dengan pelarut sehingga tersuspensi dan dapat dipisahkan melalui penyaringan . Penambahan HCl pada filtrat diperlukan karena larutan garam sudah bersifat basa akibat dari penambahan Ba(OH)2¬. Diusahakan agar larutan garam netral (pH=7). Larutan garam kemudian dipanaskan sehingga diperoleh NaCl murni dalam bentuk serbuk karena setelah melalui pemanasan serta pelarutan menyebabkan ikatan-ikatan antar ion dalam kisi kristal sebagian besar putus dan tidak lagi terdapat dalam bentuk bongkahan.

Setelah larutan tersebut netral, maka pada larutan itu dilakukan penguapan atau pemanasan hingga terbentuk kristal garam dapur kembali (rekristalisasi). Bentuk kristal garam dapur setelah dilakukannya proses rekristalisasi adalah strukturnya lebih lembut dan warnanya putih bersih. Kristal yang diperoleh ini kemudian ditimbang. Dari hasil penimbangan diperoleh berat kristal sebesar 15,63 gram. Sedangkan rendemen yang diperoleh dari percobaan ini memiliki nilai sebesar 52,1 %.

V. Simpulan
Kesimpulan dari percobaan ini adalah bahwa garam dapur yang dimurnikan pada percobaan ini, menggunakan prinsip rekristalisasi dengan penguapan dan dilakukan dengan melarutkan garam dapur kasar. Garam dapur tersebut dilarutkan ke dalam air panas dan disaring serta ditambahkan pelarut atau zat yang spesifik untuk memberikan perbedaan daya larut yang cukup besar dengan pengotornya sehingga garam dapat dipisahkan dari pengotornya garam dapur hasil rekristalisasi yang diperoleh sebesar 15,63 gram dan rendemennya sebesar 52,1%

DAFTAR PUSTAKA

Clayden. 2001. Organic Chemistry. McGraw-Hill. Sydney.
Cotton dan Wilkinson. 1989. Kimia Anorganik Dasar. Universitas Indonesia. Jakarta.
Lesdantina, Dina dan Istikomah. 2009. Pemurnian NaCl dengan Menggunakan Natrium Karbonat. Seminar Tugas Akhir S1 Tehnik Kimia UNDIP.
Lindawati.2006. Pengaruh Waktu Penyimpanan dan Pemanasan Terhadap Kadar Iodium Dalam Garam Beriodium. Universitas Negeri Semarang.
Salim, Agus. 2008. Sintesis Material. www.google// rekristalisasi/agus_salim.htm. [ 16 Mei 2010].

TUGAS
1. Jelaskan perbedaan dasar antara metode rekristalisasi dan metode lain ?
2. Jelaskan fungsi penambahan masing-masing zat tersebut atau
3. Ramalkannya pengotor apasaja yang masih ada dalam Kristal NaCl hasil rekristalisasi ?
4. Jelaskan kelebihan dan kelemahan masing-masing cara kristalisasi tersebut di atas?
5. Dapatkan gas HCl dibuat dengan mereaksikan garam dapur dengan selain asam sulfat. Jelaskan ?
JAWAB
1. Perbedaan dasar antara metode rekristalisasi dengan metode yang lain adalah pada metode rekristalisasi merupakan pemisahan berdasarkan pada perbedaan daya larut antar zat yang dimurnikan dengan kotoran dalam suatu pelarut tertentu. Sedangkan pada metode lain seperti destilasi merupakan penguapan suatu cairan dengan cara memanaskannya dan kemudian mengembunkannya kembali menjadi cairan.
2. Fungsi masing-masing penambahan
CaO berfungsi memutihkan garam yang dihasilkan karena dapat mengikat pengotor berupa Ca2+. Ba(OH)2 memiliki fungsi yang sama dengan CaO, tetapi khusus mengikat pengotor berupa ion Mg2+ atau Al3+. (NH4)2CO3 yang berguna untuk mengikat sisa-sisa zat pengotor yang mungkin masih ada dalam larutan garam tetapi tidak bisa terikat oleh 2 pelarut sebelumnya.
3. Pengotor yang ada dalam Kristal NaCl hasil rekristalisasi adalah berupa partikel padat dan menjadi koloid dalam larutan.
4. Kelebihan cara rekristalisasi dapat memberikan perbedaan daya larut yang cukup besar antara zat yang dimurnikan dengan pengotornya, tidak meninggalkan zat pengotor pada Kristal dan mudah dipisahkan dari Kristal. Sedangkan kelemahannya adalah bersifat inert (tidak mudah bereaksi dengan Kristal).
5. Ya, gas HCl dapat dibuat dengan mereaksikan garam dapur dengan selain asam sulfat karena Penambahan gas HCl pada filtrat diperlukan karena larutan garam sudah bersifat basa akibat dari penambahan Ba(OH)2¬ saat rekristalisasi kedua. Diusahakan agar larutan garam netral (pH=7). Larutan garam kemudian dipanaskan sehingga diperoleh NaCl murni dalam bentuk serbuk.


Minggu, 20 Februari 2011

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK

PERCOBAAN 2

PEMBUATAN KALIUM NITRAT

NAMA : RADEN ALIP RAHARJO

STAMBUK : A1C4 08 027

KELOMPOK :



LABORATORIUM PENGEMBANGAN UNIT KIMIA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS HALUOLEO

KENDARI

2010
I. Tujuan dan Prinsip Percobaan
A. Tujuan Praktikum
Percobaan ini dimaksudkan untuk mempelajari pembuatan garam kalium nitrat hasil reaksi antara natrium nitrat dan kalium klorida dan mempelajari pemisahan garam tersebut dari hasil samping natrium klorida berdasrkan perbedaan kelarutan.
B. Prinsip Percobaan
Prinsip percobaan pada praktikum kali ini yaitu pembuatan kalium nitrat dari KCl dan NaNO3 yang didasarkan pada perbedaan kelarutan.
II. Teori
Salah satu penerapan yang paling berguna dari kalium nitrat ialah dalam produksi asam sendawa, dengan menambahkan asam sulfatlarutan encer kalium nitrat, menghasilkan asam sendawa dan kalium sulfat yang terpisah melalui distilasi fraksional. yang terkonsentrasi pada Kalium nitrat juga digunakan sebagai pupuk, sebagai model bahan pembakar rocket, dan dalam beberapa petasan seperti bom asap, pada yang mana campuran dengan gula memproduksi jelaga asap 600 kali dari volumnya sendiri. Dalam proses pengawetan makanan, kalium nitrat merupakan komposisi umum dari daging yang diasinkan. Kalium Nitrat juga komponen utama dalam penghilang puntung. Juga telah digunakan dalam
pembuatan es krim.Kesalahan konsepsi terkenal ialah bahwa kalium nitrat itu antafrodisiak dan ditambahkan dalam makanan dalam adat yang biasa dikerjakan lelaki. Nyatanya kalium nitrat tak memiliki efek seperti itu pada manusia. Kini, penggunaan kalium nitrat dalam pasta gigi untuk gigi sensitif telah bertambah secara dramatis, walau nyatanya telah tak ditampakkan untuk membantu dengan sebenarnya hipersensitivitas gigi (Muttaqin, 2009).
Potasium nitrat Grand-K adalah salah satu jenis pupuk majemuk yang memiliki kedua unsur tersebut secara tepat. Pupuk ini biasanya diformulasikan dalam dua bentuk yaitu prill dan kristal. Potasium nitrat penggunaannya dalam pertanian lebih dikenal sebagai kalium nitrat atau biasa disingkat dengan rumus KNO3. Grand-K merupakan pupuk majemuk yang memiliki keunggulan dibandingkan pupuk lainnya. Dimana dengan Grand - K kandungan K2O yang siap diserap tanaman sangat tinggi yaitu 46 persen. Selain kandungannya yang tinggi, ternyata sifat penting yang dimiliki oleh KNO3 Grand-K adalah tingkat kelarutannya dalam air yang sangat tinggi sehingga jumlah ion-ion K+ dan NO3- yang dilepaskan banyak tersedia bagi tanaman. Pupuk Majemuk Potasium Nitrat Grand-K sebenarnya tidak hanya bagus untuk bawang merah saja namun juga dapat digunakan pada tanaman lain seperti padi, tomat, melon, semangka, jagung dan lain sebagainya(Menas, 2008).
Nitrat adalah salah satu jenis senyawa kimia yang sering ditemukan di alam, seperti dalam tanaman dan air. Senyawa ini terdapat
dalam tiga bentuk, yaitu ion nitrat (ion-NO)3, kalium nitrat (KNO3), dan nitrogen nitrat (NO3-N). Ketiga bentuk senyawa nitrat ini menyebabkan efek yang sama terhadap ternak meskipun pada konsentrasi yang berbeda (Stoltenow dan Lardy 1998; Cassel dan Barao 2000). Sebenarnya nitrat tidak toksik terhadap hewan. Namun, konsumsi dalam jumlah yang berlebihan dan konsentrasi tinggi dapat menyebabkan keracunan, karena dengan bantuan bakteri rumen, nitrat akan direduksi menjadi nitrit yang 10 kali lebih toksik dari nitrat. Selanjutnya, ion nitrit diserap dalam darah, dan bila terjadi kontak dengan eritrosit, nitrit akan mengoksidasi Fe+2 dalam haemoglobin (Hb) menjadi Fe3+ membentuk methaemoglobin (MetHb). Kandungan MetHb dalam darah 30−40% dapat menimbulkan gejala klinis, dan bila kandungannya mencapai 80−90% akan menyebabkan kematian pada ternak (Clarke dan Clarke 1976; Osweiler et al. 1976). Menurut Robson (2007), beberapa hewan dapat mentoleransi kandungan MetHb sampai 50% tanpa menimbulkan gejala sakit. Namun, bila kandungan MetHb melebihi 80% akan menyebabkan kematian pada hewan (Yuningsih, 2007)
Logam alkali melimpah dalam mineral dan di air laut. Khususnya, natrium, Na, di kerak bumi adalah keempat setelah Al, Fe, dan Ca. Walaupun keberadaan ion natrium dan kalium telah dikenali sejak lama, sejumlah usaha untuk mengisolasi logam ini dari larutan air garamnya gagal sebab kereaktifannya yang tinggi pada air. Kalium (1807) dan tidak lama setelahnya natrium diisolasi dengan mengelektrolisis garam leleh
KOH atau NaOH oleh H. Davy di abad ke-19. Litium Li ditemukan sebagai unsur baru di tahun 1817, dan Davy segera setelah itu mengisolasinya dari Li2O dengan elektrolisis. Rubidium, Rb dan Cesium, Cs, ditemukan sebagai unsur baru dengan teknik spektroskopi tahun 1861. Fransium, Fr, ditemukan dengan menggunakan teknik radiokimia tahun 1939, kelimpahan alaminya sangat rendah (Sato, 1996)
Asam nitrat jenuh memiliki sifat oksidator sangat kuat terhadap unsur-unsur logam . Untuk reaksi dengan logam – logam tertentu seperti emas dan platina , nitrat bercampur dengan asam klorida menjadi aquaregia ( 3 bagian HCl pekat + 1 bagian HNO3 jenuh). Adanya kompleksasi dari ion klorida yang terpenting untuk meningkatkan efektifitas aquaregia dibandingkan dengan asam nitrat . Unsur-unsur non logam biasanya dioksidasi oleh asam nitrat pekat menjadi oksida atau asam okso . Kekuatan oksidator bergantung pada besarnya konsentrasi . Larutan yang konsentrasinya kurang dari 2 M praktis tidak berisfat oksidator (Arifin 2010)
Hidrokarbon yang pada umumnya berupa gas ( termasuk normal dan iso-pentane) bereaksi dengan lembut di dalam uap air tahap dengan asam sendawa untuk memberi suatu campuran nitro-compounds, tetapi ada sisi reaksi, yang sebagian besar oksidasi. Hanya mononitro yang derivative diperoleh dengan yang yang lebih rendah lilin pada temperatur tinggi, dan mereka sesuai dengan yang diharapkan itu jika scission suatu
C–C dan C–H obligasi;ikatan terjadi. Etan, sebagai contoh, menghasilkan
nitromethane dan nitroethane
(Speight, 2006)
III. Metode Praktikum
A. Alat dan bahan yang digunakan
Alat alat yang digunakan pada praktikum ini adalah
a) 2 buah gelas beker 400 ml
b) 1 buah gelas kimia 600 ml
c) 1 buah corong gelas
d) 1 buah cawan penguapan
e) pemanas
Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah
a) Kalium klorida
b) Natrium nitat


IV. Hasil Pengamatan
A. Reaksi Lengkap
KCl (aq + NaNO3 (aq) NaCl (p) + KNO3 (aq)
B. Data Pengamatan
2. Data Hasil Pengamatan
Berat KCl = 15 gram
Mr KCl = 74.5 g/mol
Mol KCl = 0,201 mol
Berat NaNO3 = 17 gram
Mr NaNO3 = 85 g/mol
Mr KNO3 = 101 g/mol Berat kristal teoritis KNO3 = 0,201 x 101 = 20,301 gram
Berat kristal praktek KNO3 = 17,33 gram

3. Perhitungan
Reaksi : KCl (aq + NaNO3 (aq) NaCl (p) + KNO3 (aq)

o mol KCl =g KCl/Mr KCl

=15/74,5 = 0,201 mol
Berdasarkan reaksi di atas, mol KCl mol KNO3
Sehingga Berat teoritis KNO3 = mol KNO3 x Mr KNO3
= 0,201 mol x 101 g/mol

= 20,301 gram KNO3

Jadi, % rendamen =(Berat kristal KNO3/Berat KNO3 teoritis)100 %
= 85,36 %

C. Pembahasan
Garam kalium nitrat dapat dibuat dengan cara mereaksikan kalium
klorida, KCl yang ditemukan dalam mineral silvi, dengan natrium nitrat
NaNO3. Jikalau larutan jenuh masing-masing reaksi tersebut saling
dicampurkan, maka akan terbentuk garam natrium klorida, NaCl dan
KNO3 karena larutan NaCl di dalam pelarut air sangat kecil, maka garam
tersebut akan mengalami pengendapan, dan melalui penyaringan larutan
KNO3 dapat dipisahkan dari NaCl. Dengan mendinginkan filtrat tersebut
secara perlahan, maka KNO3(aq) akan mengalami proses kristalisasi, dan
untuk memenuhi KNO3 yang dihasilkan perlu kristalisasi
Senyawa kimia kalium nitrat merupakan sumber alami mineral
nitrogen. Sumber utama Kalium nitrat ialah deposit yang
mengkristalisasikan dari dinding gua atau mengalirkan bahan organik yang
membusuk. Tumpukan kotoran juga sumber umum yang utama: amonia
dari dekomposisi urea dan zat nitrogen lainnya akan melalui oksidasi
bakteri untuk memproduksi nitrat. Sedangkan pada percobaan ini, kita memperoleh kalium nitrat dengan menggunakan bahan dasar natrium nitrat yang direaksikan dengan KCl padat.
Tahap pertama yang dilakukan adalah melarutkan KCl dan NaNO3 dalam bentuk padatan (kristal) dengan air panas. Tujuannya adalah untuk mempercepat proses kelarutan karena suatu senyawa dengan lebih mudah larut dalam air panas dibandingkan dalam air dingin. Kelarutan dalam air panas dipengaruhi oleh keadaan jenuh dari larutan tersebut. Larutan jenuh didefinisikan sebagai larutan yang mengandung zat terlarut dalam jumlah yang diperlukan untuk adanya kesetimbangan antara zat terlarut yang larut dan yang tak larut. Pembentukan larutan jenuh dapat dipercepat dengan pengadukan yang kuat dari zat terlarut yang berlebih. Banyaknya zat terlarut yang melarut dalam pelarut yang banyaknya tertentu, untuk menghasilkan suatu larutan jenuh itulah yang disebut kelarutan zat terlarut.
Tahap kedua adalah pencampuran larutan KCl dan NaNO3 dalam keadaan panas (jenuh) dengan tujuan agar larutan tidak bereaksi dengan zat-zat yang ada di udara yang akan mengganggu jalannya reaksi. Selain itu, dimaksudkan untuk mempercepat reaksi yang terjadi agar pergerakan ion-ion dalam larutan semakin cepat sehingga kemungkinan untuk terjadinya tumbukan lebih besar. Dengan melarutkan kedua bahan dengan air maka bahan tersebut akan terurai menjadi ion-ion sehingga pada pencampuran kedua larutan jenuh tersebut maka terjadilah pertukaran ion ( ion exchange). Ion K+ dari KCl akan berikatan dengan ion NO3- dari
NaNO3 membentuk KNO3 sedangkan Na+ akan berikatan dengan Cl- membentuk NaCl. Campuran tersebut diuapkan kembali agar larutan tersebut menjadi lebih pekat. Sifat kalium nitrat yang terbentuk adalah hidroskopis maka kemungkinan akan menyerap uap air yang ada di udara. Sedangkan karena kelarutan NaCl di dalam pelarut air sangat kecil, maka garam tersebut mengalami pengendapan sedangkan KNO3 akan tetap berada dalam fasa larutan. Endapan NaCl ini kemudian dipisahkan dari larutan dengan penyaringan.
Filtrat KNO3 yang diperoleh dari hasil penyaringan dipekatkan lagi dengan jalan dipanaskan untuk menghilangkan molekul air yang masih terikat dalam larutan sehingga diperoleh larutan yang lebih pekat. Setelah didinginkan beberapa menit akan terbentuk kristal yang dapat diamati. Hal ini dilakukan karena didalam proses pembentukan kristal diperlukan waktu untuk terjadinya pengikatan antar molekul-molekul. Dan karena dalam kristal KNO3 tersebut kemungkinan masih ada zat pengotor maka dilakukan rekristalisasi menggunakan aquades sehingga diperoleh kristal KNO3 murni yang berbentuk serbuk putih..
Setelah kristal terbentuk, dilakukan penimbangan dimana kita mendapatkan berat kristal KNO3 sebesar 17,33 gram. Hal ini berbeda dengan hasil perhitungan secara teori yang mendapatkan berat kristal KNO3 sebesar 20.301 gram. Hal ini mungkin disebabkan karena adanya molekul-molekul dari KNO3 yang belum mengendap atau dapat disebabkan adanya sebagian molekul yang hilang sehingga berat kristal
yang didapatkan lebih kecil daripada berat secara teoritis. Hal ini juga dapat dilihat dengan menghitung rendamennya yaitu sebesar 85,36 %
V. Simpulan
Dari hasil percobaan di atas, dapat disimpulkan bahwa, untuk membuat kalium nitrat dapat digunakan bahan dasar natrium nitrat yang direaksikan dengan kalium klorida yang akan membentuk kristal KNO3 melalui proses pemanasan, penyaringan, pendinginan dan rekristalisasi dengan persentase rendamen yang diperoleh adalah sebesar 85,36 %.
Daftar pustaka
Arifin. 2010. Penuntun kimia Anorganik II. Laboratorium Pengembangan Unit Kimia Universitas Haluoleo. Kendari
Hasyim, Muttaqin. 2009. Manfaat Kalium Nitrat. http//: www.google.com/MANFAATKALIUMNITRAT « Muttaqinhasyim’ys Blog.htm
Saito, Taro,1996. Buku Teks Kimia Anorganik Online. Permission Of Iwananmi Shoten. Tokyo.
Speight J.G. 2006.The Chemistry and Technology of Petroleum Fourth Edition. Taylor & Francis Group, LLC.
Tjionger’s , Menas. 2008. Potasium Nitrat Memperbesar dan Memperbanyak Umbi Bawang Merah. http//:www.google.com/hal3601.htm
Yuningsih. 2007 . Keracunan Nitrat-Nitrit Pada Ternak Ruminansia dan Upaya Pencegahannya. Balai Besar Penelitian Veteriner.Bogor