Sabtu, 12 Februari 2011

PEMBUATAN NATRIUM TIOSULFAT

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK
PERCOBAAN I
PEMBUATAN NATRIUM TIOSULFAT


NAMA : RADEN ALIP RAHARJO
STAMBUK : A1C4 08 027
KELOMPOK :


LABORATORIUM PENGEMBANGAN UNIT KIMIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2010

I. Tujuan dan Prinsip Percobaan

A. Tujuan Praktikum
Percobaan ini dimaksudkan untuk mempelajari perubahan garam natrium tiosulfat dan sifat-sifat kimianya. 

B. Prinsip Percobaan
Pembuatan garam natrium tiosulfat pada percobaan ini didasarkan pada proses perefluksan serbuk belerang dengan natrium sulfit pada suhu yang cukup tinggi. melalui tehnik pengkristalan filtrat (kristalisasi).

II. Teori
Berupa hablur besar, tidak berwarna, atau serbuk hablur kasar.Mengkilap dalam udara lembab dan mekar dalam udara kering pada suhu lebih dari 33°C. Larutannya netral atau basa lemah terhadap lakmus. Sangat mudah larut dalam air dan tidak larut dalam etanol (Anonim, 1995).Sodium tiosulfat merupakan donor sulfur yang mengkonversi sianida menjadi bentuk yang lebih nontoksik, tiosianat, dengan enzyme sulfurtransferase,yaitu rhodanase. Tidak seperti nitrit, tiosianat merupakan senyawa nontoksik, dan dapat diberikan secara empiris pada keracunan sianida. Penelitian dengan hewan uji menunjukkan kemampuan sebagai antidot yang lebih baik bila dikombinasikan dengan hidroksokobalamin (Olson, 2007). 
Rute utama detoksifikasi sianida dalam tubuh adalah mengubahnya menjadi tiosianat oleh rhodanase, walaupun sulfurtransferase yang lain, seperti 37 beta-merkaptopiruvat sulfurtransferase, dapat juga digunakan. Reaksi ini memerlukan sumber sulfan sulfur, tetapi penyedia substansi ini tebatas.Keracunan sianida merupakan proses mitokondrial dan penyaluran intravena sulfur hanya akan masuk ka mitokondria secara perlahan. Natrium tiosulfat mungkin muncul sendiri pada kasus keparahan ringan sampai sedang, sebaiknyadiberikan bersama antidot lain dalam kasus keracunan parah. Ini juga merupakan pilihan antidot saat diagnosis intoksikasi sianida tidak terjadi, misalnya pada kasus penghirupan asap rokok. Natrium tiosulfat diasumsikan secara intrinsik nontoksik tetapi produk detoksifikasi yang dibentuk dari sianida, tiosianat dapatmenyebabkan toksisitas pada pasien dengan kerusakan ginjal. Pemberian natrium tiosulfat 12.5 g i.v. biasanya diberikan secara empirik jika diagnosis tidak jelas (Eby, 2009)

Jalur terpenting dari pengeluaran sianida ini adalah dari pembentukantiosianat (SCN-) yang diekresikan melalui urin. Tiosianat ini dibentuk secaralangsung sebagai hasil katalisis dari enzim rhodanese dan secara indirek sebagai reaksi spontan antara sianida dan sulfur persulfida (Utama, 2006). Reaksi ini membutuhkan sumber utama yaitu sulfur sulfan namun jumlahnya dalam tubuh terbatas maka natrium tiosulfat dapat digunakan sebagai antidot dalam keracunan sianida karena natrium tiosulfat dapat berfungsi sebagai pemasok sulfur. Natrium tiosulfat merupakan antidot pilihan jika diagnosisnya belum tentu jelas karena keracunan sianida atau bukan, seperti dalam kasus yang disebabkan oleh asap rokok(Tintus, 2008)

Garam yang biasa disebut tiosulfat stabil dan berjumlah banyak. Tiosulfat dibuat dengan memanaskan alkali/larutan sulfit dengan S dan juga dengan mengoksidasi polisulfida dengan air seperti reaksi berikut 

Na2S2O3 + S → Na2S2O3
2NaS3 + 3O2 → 2Na2S2O3 +2S

Selain itu natrium tiosulfat dapat dibuat dari SO2 dengan reaksi sebagai berikut :

2S02(aq) + O2(g) → SO3(g)

Kemudian direaksikan dengan Na2SO3 dan H2O
reaksi :
2SO2 + Na2CO3 + H2O → 2NaHSO3 + CO2
produk (NaHSO3) direaksikan lagi dengan Na2CO3
reaksi :
2NaHSO3 + Na2CO3 → 2Na2SO3 + CO2 + H2O
terakhir Na2SO3 direaksikan dengan S dengan bantuan pemanasan.
Rekasi :
Na2SO3 + S → Na2S2O3 (Puput, 2008)

Ion tiosulfat memiliki struktur (S-SO3)2- dan S-O masing-masing 1,99 ± 0,66 A. Panjang ikatan S-S yang mendekati panjang ikatan S-O menunjukkan bahwa dalam ikatan S-S juga terlibat ikatan n. Garam alkali tiosulfat banyak diproduksi terutama untuk kebutuhan bidang fotografi, dimana garam ini digunakan untuk melarutkan perak bromidayang tidak bereaksi dalam suatu emulsi. Ion tiosulfat dengan ion perak dapat membentuk kompleks Ag(S2O3)- dan Ag(S2O3)3-, ion tiosulfat juga membentuk kompleks dengan ion logam yang lain(Arifin, 2010)

Thiosulfat mudah diperoleh dengan mendidihkan larutan silfit dengan sulfur. Asam bebasnya tidak stabil pada suhu biasa. Alkali thiosulfat diproduksi dipabrik untuk digunakan dalam fotografi dimana mereka digunakan untuk melarutkan perak bromida yang tidak reaktif dari emulsi dengan pembentukan kompleks [Ag(S2O3)] dan [Ag(S2O3)2]3-; ion thiosulfat juga membentuk kompleks dengan ion logam lainnya. Ion thiosulfat mempunyai struktur S-SO32- (Cotton, 1989).

Campuran yang paling berbau harum dapat sulfonated oleh tindakan tentang dipusatkan atau asam belerang menggerutu untuk membentuk asam sulfonic. Reaksi mungkin diwakili dengan mana reaksi sulfonation berlangsung, bagaimanapun, bervariasi dengan sangat. Benzen dan toluene dapat bersulfonasi pada suhu yang dingin, sedangkan anthraquinone memerlukan asam belerang dan temperatur tinggi. Tidak sama dengan reaksi penggantian benzen electrophilic yang lain, sulfonation adalah suatu reaksi yang dapat dibalik. Jika air bukanlah yang dipindahkan secara terus-menerus sepanjang reaksi kemudian hidrolisis sulfonic cuka akan mendorong kearah reaksi kebalikan kepada bahan dasar yang berisi tidak ada sulfonate yang menggolongkan. Keseluruhan proses sulfonation, jika air adalah merupakan campuran reaksi, diwakili oleh berikut penyamaan: Sulfonation adalah campuran berbau harum adalah sangat penting di dalam pembuatan tentang celupan. Sebab sebab sulfonic biasanya dapat larut dalam air, sulfonation tentang campuran berbau harum menyediakan bermakna untuk membuat berbau harum campuran dapat larut dalam air. Juga, kelompok cuka yang sulfonic mudah dipindahkan (Ali, 2006)

Unsur belerang biasanya adalah padatan kuning dengan titik leleh 112,8 o C disebut dengan belerang ortorombik ( belerang α). Transisi fasa polimorf ini menghasilkan belerang monoklin (belerang β) pada suhu 95,5oC. Telah ditentukan pada tahun 1935 bahwa belerang-belerang ini mengandung molekul-molekul siklik berbentuk mahkota. Karena bentuknya molekular, belerang larut dalam CS2. Tidak hanya cincin yang berannggotakan 8 tetapi cincin dengan anggota 6-20 juga dikenal, dan polimer belerang heliks adalah belerang bundar yang tak hinnga. Molekul S2 dan S3 ada dalam fasa gas. Bila belerang dipanaskan, belerang akan mencair dan saat didinginkan menjadi makromolekul seperti karet. Keragaman struktur belerang terkatenasi juga terlihat dalam struktur kation dan anion poli belerang yang dihasilkan dari reaksi spesi yang terkatenasi (Saito, 1996).

III. Metode Praktikum

A. Alat dan bahan yang digunakan
Alat alat yang digunakan pada praktikum ini adalah

Refluks
Batang pengaduk
Tabung reaksi
Pembakar bunsen
Timbangan

Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah

Natrium sulfat anhidrous
Serbuk belerang
Natrium sulfat
Larutan iodium dalam KI
Larutan HCl encer
Aquades

B. Prosedur kerja



IV. Hasil Pengamatan
A. Reaksi Lengkap
1. Pembuatan Natrium tiosulfat -5- hidrat
S8(s) + 8Na2SO32- + 5H2O 8Na2S2O32-.5H2O
(Serbuk kuning) (kristal padat putih)

2. Sifat- sifat kimia Natrium tiosulfat
I3- + 2Na2S2O3 Na2S4O6 + 2NaI + I2
(larutan merah) (bening)

Na2S2O4 + 2HCl 2NaCl + H2SO4 + S(s)
(asam)
(endapan



B. Data Pengamatan
1. Pembuatan Natrium tiosulfat
Perlakuan Pengamatan
10 gram Na2SO3 +50 ml air - larutan berwarna keruh
10 gram Na2 SO3 + 50 ml air + 1,5 gr serbuk belerang - saling tidak melarutkan
- 10 gram Na2 SO3 + 50 ml air + 1,5 gr serbuk belerang (direfluks) - larutan berwarna kuning (homogen)
- Campuran setelah 2 jam - campuran menguap terbentuk Na2S2O3



Berat natrium sulfit = 10 gram
Volume = 50 ml
Berat serbuk S = 1,5 gram
Berat Cawan = 54,70 gram
Berat Kertas Saring = 1,15 gram
Berat Kristal (praktek) = 10,24 gram
Warna Kristal = Putih padat
Bentuk kristal = Sebuk
Reaksi : Na2SO3 + S + 5H2O Na2S2O3.5H2O
Dik : Mr Na2SO3 = 126 g/mol
Na2S2O3.5H2O = 248 g/mol
• Mol Na2SO3 =
• Mol Na2SO3 sebanding Mol Na2S2O3.5H2O
• Massa Na2S2O3.5H2O teori = Mol Na2S2O3 x Mr Na2S2O3
= 0.08mol x 248 g/mol
= 19,84 gram
• Massa eksperimen = 10,24 g
• % rendamen = massa Na2S2O3 praktik/massa Na2S2O3 teori x 100 %
=
= 51,61%




C. Pembahasan

Natrium Tiosulfat (Na2S2O3) adalah salah satu jenis dari garam terhidrat. Garam terhidrat adalah garam yang terbentuk dari senyawa-senyawa kimia yang dapat mengikat molekul-molekul air pada suhu kamar. Ion tiosulfat dapat diperoleh secara cepat dengan cara mendidihkan belerang dengan non sulfit atau dengan cara mendekomposisi ion ditionit. Garam alkali tiosulfat banyak diproduksi terutama untuk kebutuhan dibidang fotografi, dimana garam ini digunakan untuk melarutkan perak bromida yang tidak bereaksi dalam suatu emulsi. ion tiosulfat dapat membentuk kompleks Ag(S2O3)- dan Ag(S2O3)23- Ion tiosulfat dapat juga membentuk kompleks dengan ion-ion logam lain.

Dalam percobaan ini akan dipelajari bagaimana cara pembuatan garam natrium tiosulfat dan mempelajari sifat-sifatnya. Garam natrium tiosulfat (Na2S2O3) merupakan suatu senyawa tiosulfat dari alkali (natrium). Garam ini memiliki sifat hidroskopis (mudah menyerap air di udara) sehingga seringkali dijumpai dalam bentuk hidratnya dibandingkan bentuk murninya. Bentuk hidrat dari garam natrium tiosulfat paling banyak dalam bentuk 5-hidrat dan 10-hidratnya, karena garam natrium tiosulfat berbentuk serbuk putih, tetapi untuk mereaksikannya tetap dalam bentuk padat karena tingkat kelarutannya yang cukup tinggi dan dapat pula dijadikan dalam bentuk larutan. Kebanyakan tiosulfat yang pernah dibuat dapat larut dalam air, tetapi dalam bentuk timbal, perak atau barium hanya larut sedikit sekali. Banyak dari tiosulfat ini larut dalam larutan natrium tiosulfat berlebih, membentuk garam kompleks. Garam-garam tiosulfat merupakan senyawa kompleks dimana kation yang mengikat tiosulfat merupakan atom pusat yang menyediakan orbital kosong (elektrofilik) sehingga dapat mengikat ligan anion yaitu tiosulfat yang memiliki elektron bebas sehingga dapat membentuk ikatan kovalen koordinasi.

Dalam percobaan ini diawali dengan merefluks natrium sulfit dan belerang dalam sebuah labu alas bulat, tujuan dari refluks ini yakni untuk mempercepat terjadinya reaksi dan reaksi yang terjadi dapat maksimal (sempurna). Agar diperoleh endapan maka larutan ini disaring dan filtratnya dipanaskan hingga volumenya menjadi setengah dari volume awalnya kemudian disaring kembali, dan dikeringkan sehingga diperoleh endapan natrium tiosulfat. Dari percobaan ini diperoleh berat endapan sebesar 10,24 gram dengan rendamen sebesar 51,61 %. Persen rendamen yang diperoleh ini artinya banyaknya natrium tiosulfat yang diperoleh pada percobaan ini adalah sebanyak 51,61 % dan dibandingkan dengan berat natrium tiosulfat yang didapatkan secara teori. Hal ini menunjukan bahwa percobaan yang kita lakukan berlangsung dengan cukup baik.

Berbagai macam cara dapat dilakukan untuk mempelajari sifat-sifat dari garam natrium tiosulfat. Diantaranya dalam percobaan ini akan dilakukan pemanasan, reaksi terhadap iod, dan pengaruh terhadap asam encer. Dengan adanya pengaruh pemanasan, kristal natrium tiosulfat-5-hidrat dibandingkan dengan natrium tiosulfat-10-hidrat untuk melihat stabilitas termal antara keduanya. Setelah dilakukan pemanasan pada suhu yang sama, maka kristal natrium tiosulfat-10-hidrat terlihat lebih duluan mencair dibandingkan dengan natrium tiosulfat-5-hidrat. Untuk reaksi terhadap iod, kristal natrium tiosulfat dalam 20 ml air diteteskan 2-3 ml larutan iod dan proses freaksi ini tidak menampakkan perubahan warna terhadap larutan campuran tersebut. Untuk pengaruh asam encer, larutan natrium tiosulfat direaksikan dengan HCl encer dengan perbandingan volume yang sama dan setelah beberapa menit terjadi perubahan warna yakni warna larutan campuran menjadi warna keruh seperti warna air beras yang dicuci.


V. Simpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari percobaan ini adalah bahwa natrium tiosullfat dapat dibuat dengan mereaksikan natrium sulfat dan serbuk belerang yang dicampur air. Hasil dari percobaan didapatkan berat endapan sebesar 10,24 gram dengan rendemen sebesar 51,61 %


Daftar pustaka
Cotton. 1989. Kimia Anorganik Dasar. Universitas Indonesia. Jakarta
Eby. 2009. Natrium Tiosulfat. www.google.com/natrium-tiosulfat.html. Diakses 17 juni 2010

Puput. 2008. Pembuatan Natrium Tiosulfat. www.google.com/pembuatan-natrium-tiosulfat.html. Diakses 17 juni 2010

Saito, Taro. 1996. Kimia Anorganik. Portal Pendidikan Gratis Indonesia. Jakarta
Tintus, Libertus.2008. Dosis Efektif Kombinasi Natrium Tiosulfat dan Natrium Natrtium Nitrit Sebagai Antidot Keracunan Sianida Akut Pada Mencit Jantan Galur Swiss. Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma. Yogyakarta.

0 komentar:

Posting Komentar